LOBAR—Komisi III DPRD Lombok Barat (Lobar) kembali turun melakukan inspeksi dadakan (sidak) ke sejumlah proyek pemerintah daerah (pemda), Kamis (29/10). Menerima laporan masyarakat terkait kondisi jalan penghubung Desa Gapuk-Desa Kebon Ayu yang berlubang kembali setelah dikerjakan, Ketua Komisi III DPRD Lobar Fauzi turun langsung mengecek kondisinya. Dari pengecekan itu, politisi PKB tersebut menemukan jalan yang belum lama dibangun dan sempat rusak sudah ditambal kembali. Namun, ia menilai kualitas jalan beraspal itu diduga tidak sesuai spek.
“Kita menerima laporan masyarakat terkait jalan mereka yang baru hitungan hari terjadi kerusakan. Alhamdulillah hari ini ketemu juga sama pihak ketiganya yang mengerjakan proyek itu,” terang Fauzi yang dikonfirmasi di sela pemantauan jalan tersebut.
Pria asal Gunungsari itu cukup menyayangkan kondisi tersebut. Lantaran kualitas aspal yang digunakan diduga tidak sesuai spek. Kondisi itu pun dikarenakan kerusakan AMP (Asphalt Mixing Plant). Hal ini menjadi bahan catatan evaluasinya kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis maupun ULP. Harusnya cermat melihat maupun memilih rekanan proyek yang kompeten.
“Kalau ini kita lihat kan ada kerusakan AMP dan sebagainya, hal ini pasti akan diketahui kejadian kerusakan alat dan sebagainya. Tapi apabila sebuah perusahaan itu lengkap, punya alat dan sebagainya, tidak sewa sini pinjam sana, pinjam sini,” imbuhnya.
Meski pihak rekanan menunjukkan tanggung jawabnya dengan memperbaiki kerusakan bahkan menambah lagi jalan itu. Bahkan selepas alat itu baik kembali, berencana menambah ketinggian jalan di atas rencana pengerjaan. Namun, Komisi III tetap meminta untuk mengerjakan sesuai ketentuan dan kontrak serta memperhatikan kualitas aspalnya.
“Bukan berarti lebih tebal itu lebih bagus, bukan seperti itu. Tetap mengikuti prosedur, ketebalannya sesuai dengan kontrak, tapi kita hanya bicara kualitas. Saya sih pribadi menyarankan ini harus diulang atau dibongkar. Untuk tidak menjadi dasar pekerjaan yang jelek ini. Kualitas aspalnya bisa dikatakan tidak bagus ini,” imbuhnya.
Terkait kondisi itu, pihaknya di Komisi III segera memanggil OPD teknis, pengawas, konsultan, hingga pihak terkait lainnya. Dewan menjadwalkan pertemuan itu digelar Senin pekan depan.
“Hari ini kami sedang berbenah di Lombok Barat, jangan sampai pemda, khususnya Pemda Lombok Barat tercoreng lagi karena oknum-oknum yang bekerja seperti ini,” pungkasnya.
Terpisah, konsultan proyek itu, Putu Ratna, tidak menampik temuan hasil sidak Komisi III tersebut. Diakuinya, terdapat ketidaksesuaian spesifikasi kualitas aspal, diakibatkan kerusakan di Asphalt Mixing Plant (AMP), alat yang digunakan untuk memproduksi campuran aspal (hotmix).
“Kemarin pada saat penghamparan ternyata hasilnya memang tidak sesuai dengan spesifikasi yang diakibatkan karena ada kerusakan di AMP,” jelasnya.
Ratna mengaku, dari hasil pengawasan dan pantauan pihaknya, pengerjaan ruas itu belum bisa diterima. Pihaknya sudah menyampaikan kondisi itu kepada Dinas PU. Sehingga pihak dinas maupun pemerintah desa meminta pihak rekanan memperbaiki.
“Dan pihak rekanan sanggup membongkar,” bebernya.
Meski demikian, kondisi pengerjaan jalan itu tidak semuanya rusak. Dari 800 meter peningkatan jalan itu, hanya 300 meter yang diaspal, dan kerusakannya hanya berada di simpang tiga depan SDN.
Pihak rekanan akan melakukan perbaikan atau pembongkaran pekerjaan setelah AMP selesai diperbaiki.
“Tapi menunggu AMP (tempat mencampur aspal) diperbaiki,” imbuhnya.
Perlu diketahui, proyek peningkatan jalan ini sesuai kontrak dimulai tanggal 13 Juli 2026 dengan masa pengerjaan 150 hari kalender. Anggaran proyek ini mencapai Rp1,14 miliar. (Win)

