F/Kepala BRIDA NTB IST I Gde Putu Ariyadi

MATARAM – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mendorong percepatan hilirisasi hasil riset dan inovasi di sektor pertanian melalui Seminar dan Sharing Session “Praktik Pemanfaatan Hasil Riset dan Inovasi Petani di Jepang” yang diselenggarakan di Aula BRIDA Provinsi NTB, Senin (27/07) Kegiatan ini bertujuan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat agar hasil riset dapat diimplementasikan menjadi solusi nyata yang meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

Seminar menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, antara lain perlunya memperkuat implementasi hasil riset di lapangan, mendorong kolaborasi triple helix antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha, serta mengembangkan pertanian berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi, pengelolaan limbah pertanian, dan peningkatan nilai tambah produk. Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan, penguatan ekonomi daerah, dan pembangunan pertanian yang berdaya saing.

Kegiatan dibuka oleh Kepala BRIDA Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi, yang menegaskan bahwa riset dan inovasi harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Menurutnya, potensi pertanian NTB yang didukung lahan subur dan iklim yang baik belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan petani karena hasil riset masih belum banyak diterapkan secara nyata.

“BRIDA hadir sebagai penghubung antara hasil riset dengan implementasi di lapangan. Riset harus menghasilkan inovasi yang mampu meningkatkan kualitas produk, nilai ekonomi, hingga daya saing pertanian NTB,” ujar Kepala BRIDA.

Ia juga menekankan bahwa pasar saat ini semakin memperhatikan proses budidaya yang sehat, ramah lingkungan, dan memiliki ketertelusuran (traceability). Kondisi tersebut menjadi peluang bagi petani NTB untuk menghasilkan produk berkualitas sekaligus memenuhi kebutuhan sektor pariwisata, perhotelan, serta Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sebagai narasumber utama, Hairul Fahmi, Direktur Yayasan Wakai Farm Jepang, membagikan pengalaman mengembangkan pertanian modern di Jepang. Ia menjelaskan bahwa Jepang tengah menghadapi penurunan jumlah petani dan minimnya regenerasi, sehingga membuka peluang bagi tenaga kerja asing, termasuk Indonesia, untuk berkontribusi di sektor pertanian.

Hairul menegaskan bahwa keberhasilan usaha pertanian tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada manajemen usaha yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Menurutnya, proses riset dan pengembangan (research and development), pengendalian mutu, pencatatan keuangan, serta kolaborasi dengan pemerintah dan perguruan tinggi menjadi fondasi utama dalam membangun usaha pertanian yang berkelanjutan.

Sementara itu, Dr. Paip Amrullah dari (Keahlian dalam Teknologi Konversi Limbah menjadi Energi), memaparkan pentingnya pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Ia menjelaskan bahwa limbah pertanian dapat diolah menjadi biogas, biochar, maupun biomaterial yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah, menghasilkan energi terbarukan, serta mendukung pengembangan produk ramah lingkungan.

Menurutnya, pemanfaatan limbah pertanian merupakan salah satu langkah strategis untuk mewujudkan ekonomi sirkular di sektor pertanian. Karena itu, teknologi yang diterapkan harus mudah dioperasikan, sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Sesi diskusi berlangsung interaktif. Perwakilan Bokah Farm menyampaikan gagasan pengembangan pasar malam di setiap kecamatan sebagai ruang pemasaran produk pertanian dan UMKM berbasis inovasi. Ia berharap konsep tersebut dapat dikolaborasikan dengan BRIDA dan menjadi salah satu inovasi yang dikembangkan melalui Sayembara Riset dan Inovasi.

Sementara itu, Perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTB menyoroti tantangan alih fungsi lahan pertanian, pengelolaan limbah hasil panen, serta penggunaan pupuk organik untuk mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca. Ia berharap inovasi yang diterapkan di Jepang dapat diadaptasi pada Program Kampung Iklim (ProKlim) di NTB sehingga mampu memperkuat pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Seminar ini dihadiri oleh perwakilan perangkat daerah lingkup Pemerintah Provinsi NTB, Bapperida Kabupaten/kota di Provinsi NTB, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Labuapi, perguruan tinggi, pelaku UMKM, kelompok tani, mahasiswa, serta unsur masyarakat. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut menjadi wujud komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi untuk mendukung pembangunan pertanian yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (jho)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *