SEKITAR pukul sepuluh pagi, saya meninggalkan rumah dengan satu tujuan. Memenuhi janji dengan seorang kepala dinas di Praya, Lombok Tengah. Matahari sudah mulai meninggi, memantulkan cahaya yang hangat di jalanan yang tak pernah benar-benar sepi. Di balik langkah yang terukur, ada satu hal yang terasa ganjil—perut masih kosong, meski sebelumnya sempat diisi mie goreng rumahan, segelas kopi, dan air putih setelah menuntaskan satu juz.

Mungkin benar, lapar tidak selalu soal makanan. Kadang ia datang dari pikiran yang belum sempat beristirahat.

Waktu masih menyisakan ruang. Janji belum tiba. Saya memilih singgah di KFC Praya—tempat yang masih baru, namun sudah mulai akrab bagi mereka yang butuh persinggahan cepat di tengah kesibukan. Tempatnya lapang, tanpa banyak pretensi, tapi justru di situlah letak ketenangannya.

Saya memesan dada ayam “mentok”,  kopi, dan segelas minuman bersoda. Tidak ada yang istimewa, setidaknya di permukaan. Namun saat duduk, menggenggam gelas kopi yang dingin, saya merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa—sebuah jeda.

Di luar, Praya berjalan seperti biasa. Kendaraan hilir mudik, orang-orang bergegas dengan urusannya masing-masing. Sebagian mungkin menuju kantor, sebagian lain mengejar waktu yang terasa selalu kurang. Kota kecil ini tidak pernah benar-benar diam, tapi juga tidak pernah terburu-buru.

Saya duduk di sudut, menikmati setiap suap dan teguk dengan perlahan. Bukan karena lapar yang mendesak. Tapi karena ingin menahan waktu sedikit lebih lama. Dalam diam, pikiran mulai menata ulang tentang pertemuan yang akan datang, tentang kata-kata yang harus dipilih, dan tentang peran kecil seorang pewarta di tengah arus informasi yang begitu cepat.

Menunggu, ternyata bukan sekadar aktivitas pasif. Ia adalah ruang refleksi—tempat di mana kita bisa berdamai dengan diri sendiri, merapikan niat, dan menguatkan langkah sebelum kembali masuk ke ritme dunia yang riuh.

Ada pelajaran sederhana yang sering terlewat. Tidak semua momen harus besar untuk menjadi berarti. Kadang, makna justru lahir dari hal-hal kecil. Sepiring makanan hangat, secangkir kopi, dan waktu yang kita beri untuk diri sendiri.

Dan, dari meja itu, di antara suara langkah pengunjung, saya menyadari, dalam setiap perjalanan, selalu ada jeda yang tidak boleh kita abaikan. Karena di sanalah, kita benar-benar menemukan arah. (red)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *