Karikatur (internet)

Di banyak profesi, pensiun adalah garis akhir. Sebuah upacara kecil, pidato perpisahan, lalu hidup berjalan lebih lambat. Namun dunia pers tidak pernah benar-benar mengenal ritme itu. Bagi wartawan, pensiun hanya memindahkan tubuh dari ruang redaksi—bukan memindahkan nurani dari tanggung jawabnya.

Karena itulah lahir kalimat yang terdengar tenang, tapi sesungguhnya menggugat. Wartawan boleh berhenti bekerja, tapi tidak pernah berhenti menjadi wartawan.

Kalimat ini bukan slogan romantik. Ia lahir dari pengalaman panjang orang-orang yang terlalu lama bersentuhan dengan kenyataan. Dari halaman pengadilan yang pengap, dari desa-desa yang hanya dikunjungi saat bencana, dari ruang kekuasaan yang wangi tapi penuh jebakan. Wartawan belajar satu hal sejak awal. Fakta tidak selalu ramah, dan kebenaran sering datang dengan risiko.

Menjadi wartawan, pada akhirnya, bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah pembentukan watak. Cara melihat dunia yang tak mudah puas pada permukaan. Refleks untuk bertanya ketika semua orang memilih diam. Kegelisahan yang muncul saat sesuatu terasa janggal, meski tampak sah secara administratif.

Maka ketika seorang wartawan berhenti bekerja, yang ditanggalkan hanyalah atribut. Jam liputan tak lagi ketat. Deadline tak lagi menghantui. Tapi kebiasaan berpikir kritis itu menetap. Ia masih membaca berita dengan kening berkerut. Masih merasa terganggu oleh kalimat yang menyesatkan. Masih ingin meluruskan cerita yang bengkok, meski hanya lewat obrolan kecil atau tulisan opini sederhana.

Di situlah letak kemanusiaan wartawan. Ia tidak berhenti peduli hanya karena tak lagi digaji. Ia tidak menutup mata hanya karena tak lagi ditugaskan. Sebab sejak awal, wartawan bekerja bukan semata untuk perusahaan pers, melainkan untuk publik—untuk orang-orang yang suaranya terlalu lemah menembus kekuasaan.

Namun kalimat itu juga menyimpan sindiran halus. Sebab di sisi lain, ada yang masih aktif bekerja, masih duduk di ruang redaksi, tapi sudah lama berhenti menjadi wartawan. Ketika pertanyaan dianggap ancaman. Ketika verifikasi dianggap memperlambat. Ketika kedekatan dengan kuasa terasa lebih aman daripada jarak kritis.

Di titik itu, pensiun justru datang lebih cepat—bukan oleh usia, melainkan oleh kompromi yang terlalu sering. Karena itu, pensiun wartawan sejatinya bukan soal waktu, melainkan soal keberanian menjaga nurani. Selama keberanian itu hidup, wartawan tetap ada. Ia bisa hadir sebagai penulis opini, pengajar, saksi sejarah, atau sekadar warga yang tak mau dibodohi.

Dan barangkali memang begitu peran pers dalam makna paling manusiawi. Menjaga agar ingatan publik tetap terjaga, agar kekuasaan tidak terlalu nyaman, dan agar kebenaran—meski sering lelah—tidak dibiarkan sendirian.

Selama masih ada orang yang mau bertanya dengan jujur dan menulis dengan tanggung jawab. Ya, wartawan itu sejatinya tidak pernah benar-benar pensiun. (abdus syukur)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *