SISWA: Terlihat siswa dapat penanganan dugaan keracunan MBG kecamatan Kopang, Sabtu (17/01).(ist)

LOTENG – Usai mengkonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) jenis susu, puluhan siswa di Kecamatan Kopang, Lombok Tengah, diduga mengalami keracunan, Sabtu (17/01).

Peristiwa tersebut menyebabkan beberapa siswa mengeluh pusing dan mual, hingga harus mendapatkan penanganan medis di Puskesmas terdekat.

“Korban puluhan orang, 24 orang dari SDN 1 Dermaji dan 14 orang dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Hidayatusholihin, mereka langsung dilarikan ke Puskesmas Pengadang dan Muncan, setelah mendapatkan penanganan dan kondisinya membaik mereka langsung diizinkan pulang, hanya dua orang siswa dari SDN 1 Darmaji yang dirawat inap,” ucap Kepala Desa Darmaji, Suhaedi saat dikonfirmasi.

Setelah dicek ternyata susu yang diberikan oleh pihak pengelola dapur MBG sudah expired/kadaluwarsa, setelah jarak 10 menit susu tersebut dikonsumsi langsung menimbulkan gejala pusing dan mual.

“Dugaan saya kuat di susu yang diberikan ini karena yang diberikan sudah expired, korban yang melapor hanya dua sekolah, setelah kejadian kami stop pelayanan agar tidak ke sekolah lain,” terangnya.

Pihaknya berharap dalam pelaksanaan pelayanan program MBG agar bisa berjalan sesuai harapan, semua elmen harus dilibatkan termasuk pemerintah desa, ini sebagai bentuk quality control terhadap pelaksanaan program ini.

“Kita harapnya begitu, pemerintah Desa juga turut dilihat dalam pengawasan agar program ini benar-benar berjalan baik karena ini menyangkut nyawa orang. Jadi kami minta pengelola janganlah terlalu terledor, manajemennya harus diperbaiki masak makan sudah kadaluwarsa dikasih ke anak,” cetusnya.

Pihaknya merekomendasikan hari itu agar pelayanan program MBG ditutup sementara sampai manajemen dari pihak dapur diperbaiki berjalan sesuai SOP dan standar gizi.

“Subtansi bisnisnya jangan sampai mengorbankan sisi-sisi kemanusiaan, masak makanan tidak layak konsumsi tetap diberikan ke anak,” pungkasnya.

Informasi yang diperoleh oleh Radar Mandalika, kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 09.00 WITA setelah siswa menerima paket susu MBG di sekolah masing-masing.

Data sementara, jumlah siswa yang terdampak mencapai 38 orang, pihak terkait kini tengah melakukan investigasi lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut. Pemerintah daerah bersama dinas kesehatan juga dikabarkan akan melakukan evaluasi terhadap distribusi makanan dan minuman dalam program MBG agar kejadian serupa tidak terulang.

Dugaan keracunan pangan (susu) yang menimpa siswa-siswi MI Hadayatussholihin Darmaji dan SDN 1 Darmaji yang disuplai oleh Yayasan Darul Mukti Monggas.

Kronologis Kejadian, Sekitar pukul 09.00 Wita, sejumlah siswa mengonsumsi susu yang disuplai oleh pihak SPPG dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selang beberapa waktu setelah mengonsumsi, sejumlah siswa mengeluhkan gejala klinis berupa mual, pusing. Korban awal berasal dari MI Hadayatussholihin Darmaji dan SDN 1 Darmaji, yang kemudian dilarikan ke Puskesmas Pengadang.

Seiring bertambahnya jumlah siswa yang mengeluhkan gejala serupa, sebagian korban dirujuk ke Puskesmas Muncan untuk mendapatkan penanganan medis.

Tidak lama setelah siswa/siswi mengalami pusing dan mual, pihak SPPG mengirim WA di grup sekolah yang isinya agar susunya jangan diminum dulu agar dikumpul mau diganti karena sebagian susu sudah expayet, tapi dari sekolah menyampaikan susu sudah habis di minum.

Sekitar pukul 10.00 wita sebagian siswa/siswi yang dirawat di Puskesmas Pengadang dan Muncan dibolehkan pulang.

Adapun Keterangan dari SPPI Sbb:
– Bahwa supplier bahan baku merupakan mitra langsung, di mana SPPI seringkali mencoba menolak bahan baku karena kualitasnya yang buruk, namun mendapatkan tekanan dari pihak mitra tersebut. Sering terjadi perdebatan (argumen) berulang antara SPPI dan mitra terkait standar bahan baku yang dianggap tidak layak konsumsi oleh pihak SPPI namun dipaksakan oleh mitra.

Terkait produk susu yang menyebabkan keracunan, SPPI sebenarnya sudah melakukan penolakan untuk mendistribusikan susu tersebut. Namun, pihak pengelola/mitra tetap memerintahkan distribusi dengan klaim bahwa produk sudah sesuai standar. SPPI tidak mampu menolak karena adanya tekanan dan ketakutan akan posisi di Dapur tersebut.

Adapun tindakan yang telah diambil yakni pengamanan sampel susu dari lokasi kejadian oleh pihak Dinas Kesehatan Lombok Tengah untuk uji laboratorium, pendataan korban di Puskesmas Muncan dan Puskesmas Pengadang, Koordinasi awal dengan pihak sekolah untuk menghentikan sementara konsumsi produk dari batch yang sama. (red)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *