TERGENANG: Kondisi SDN 1 Sekotong Tengah yang terdampak banjir, Rabu (14/1).(WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA)

LOBAR—Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Sekotong Tengah terpaksa diliburkan, Rabu (14/1). Akibat dampak bencana banjir yang melanda 7 Desa di Sekotong Selasa (13/1). Sekolah yang berada di dekat simpang tiga Sekotong Tengah-Taman Baru Sekotong itu menjadi langganan banjir setiap tahunnya.

Air banjir sampai masuk dalam ruang belajar. Hingga membuat tidak layak digunakan. Kepala sekolah dan guru-guru gotongroyong membersihkan sisa lumpur yang masuk dalam ruangan.

“Setiap tahun memang langganan banjir khususnya di sekolah ini. Dampaknya terpaksa anak-anak(murid) kita liburkan karena ruang kelas kita penuh lumpur, mungkin 2-3 hari kita bersihkan dulu,” terang Kepala SDN 1 Sekotong Tengah, Zulkifli yang ditemui disela gotong royong membersihkan.

Pihak sekolah masih merasa was-was atas kondisi cuaca saat ini. Kekhawatiran banjir susulan terjadi lagi. Membuat proses belajar semakin ternganggu.

“Harapan kita mudah-mudahan tidak terjadi banjir susulan lagi,” ucapnya.

Ia mengaku kondisi banjir setiap tahun dialami sekolah. Kondisi sekolah yang rendah dan dekat aliran sungai, ditambah dengan banjir rob membuat aliran air dari atas bukit turun ke kawasan Sekotong Tengah.

“Kalau setiap musim hujan datang ya seperti ini kita( alami banjir). Kita berharap ada solusi pemerintah agar sekolah ini tidak terkena banjir lagi,” ucapnya.

Sebelumnya, pihak sekolah sudah beberapa kali mengusulkan agar dilakukan rehab atas bangunan sekolah. Selain meninggikan pondasi, bangunan sekolah dibangun bertingkat, agar tidak terdampak banjir. Namun sejauh ini usulan itu tak kunjung digubris.

“Kita harapkan ditingkatkan, karena kondisi sekolah ini. Disamping juga kondisi jumlah siswa kita juga besar,” imbuhnya.

Usulan peningkatan gedung sekolah itu juga selain karena dampak Bencana, juga karena membludaknya jumlah siswa mencapai 387 orang. Namun dengan jumlah 13 rombongan belajar (Rombel), jumlah kelas yang dimiliki masih kurang.

“Karena terbatas, satu kelas sampai belajar di aula. Yang awalnya kita rencana mau jadikan musolah, tetapi karena kurang kelas jadinya kita jadikan kelas,” bebernya. (win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *