Abdus Syukur (dokpribadi)

Ia datang tanpa iring-iringan. Tanpa pengeras suara. Tanpa baliho. Hanya satu lembar formulir yang ia bawa—dan satu niat yang tampak sudah bulat: mendaftar sebagai calon Ketua PWI NTB periode 2025-2030.

Namanya H. Abdus Syukur. Wartawan. Penguji UKW. Pernah pula jadi orang yang menolak tampil, demi menjaga marwah organisasi. Tapi kali ini dia maju. Dengan cara yang (masih) santun.

“Saya sudah mendaftar. Saya serahkan semuanya kepada teman-teman pemilik suara,” ujarnya singkat. Tapi cukup dalam.

Tanpa embel-embel jargon. Tanpa deklarasi di hotel. Tidak juga bawa proposal visi-misi 12 halaman. Ia hanya titip satu pesan: jaga organisasi ini tetap waras.

Bukan Calon Sembarangan

Tak sedikit yang mendukung. Bukan karena dekat. Tapi karena paham rekam jejak.

Salah satunya Tajir Asyjar Djr.—Sekretaris SMSI NTB. Ia menyebut Syukur sebagai figur yang sudah matang secara organisasi, juga tenang dalam tekanan.

“PWI ini rumah besar. Tidak bisa dipimpin hanya karena populer di media sosial. Harus ada rekam jejak. Harus paham isi rumah,” kata Tajir.

Pemilu Tanpa Spanduk

Konferensi Provinsi PWI NTB akan digelar 2-3 Agustus. Tapi suhu mulai naik sejak formulir pertama dikembalikan.

Baru tiga nama yang mendaftar hingga hari terakhir: Abdus Syukur dan Muludin, Nasrudin.

Tiga-tiganya bukan nama asing. Satunya petahana, wakil ketua dan ketua PWI Lombok Timur. Ini akan jadi pemilihan yang menarik. Tanpa euforia, tapi penuh sinyal dan manuver.

Syukur dan Gaya Lama yang Rindang

Gaya Syukur tidak meledak-ledak. Tapi selalu konsisten. Ia tidak banyak bicara. Tapi kalau bicara, tidak pakai basa-basi.

Kalau menang, ia ingin bawa semangat kolaboratif. Kalau kalah, ia tetap akan mengawal organisasi ini dari belakang. Bukan ancam mundur. Bukan pula pindah organisasi.

“Bagi saya, siapa pun yang terpilih, PWI harus tetap solid. Jangan ikut-ikutan retak seperti di pusat,” kata pemimpin umum Radar Mandalika itu.

Kontestasi Dimulai, Tapi Tetap Santai

Kandidat boleh berstrategi. Tapi organisasi jangan jadi ladang transaksi. Ini pesan yang sering ia ulang.

Maka pemilihan ini—entah akan panas atau biasa-biasa saja—harus tetap berada di jalur etik dan estetik.

Jika Syukur terpilih, ini bukan kemenangan satu orang. Tapi kemenangan cara lama yang masih dipercaya: diam, tapi bekerja.

Dan kalau tidak terpilih? Ia tetap akan duduk tenang, di belakang meja redaksi. Menulis. Membaca. Menguji wartawan muda. Menjadi saksi bahwa organisasi ini tidak lahir dari gaduh. Tapi dari etika yang tak pernah pensiun.

“Saya sudah daftar. Selanjutnya terserah teman-teman.” Dan itu bukan kalimat pasrah. Tapi cara halus untuk mengatakan: “Saya siap. Tapi tidak akan memaksa”. (**)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *