LOBAR–Beberapa hotel, restoran dan tempat hiburan di kawasan pariwisata Senggigi satu persatu mulai tutup. Pasca terjadinya bencana gempa bumi 2018 lalu. Hal ini pun membuat kunjungan wisatawan ke icon pariwisata Lobar itu menurun. Bahkan dampak isu corona semakin mempengaruhuinya. Disamping masih tingginya retribusi izin minuman berakhol dan pajak hiburan, restoran yang dianggap beberapa pengusaha setampat tinggi. Sehingga turut berdampak.
Ketua Asosiasi Pengusaha Hiburan (APH) Senggigi, Suhermanto dari pasca gempa hingga sekarang sudah ada beberapa yang tutup. Diantaraya Surya, Loligo, Kedaton, Citra, Sentosa, Belina dan beberapa tempat hiburan dan hotel kecil lainya.
“Yang bertahan ini karena memiliki izin dan memaksakan diri. Tetapi yang besar seperti Citra, Loligo dan Kedaton sudah tutup,” beber Herman.
Meski kini Pemkab Lobar sudah menurunkan pajak hotel dan restoran sebesar 10 persen. Namun pemberlakuannya masih belum dilakukan. Karena masih menunggu persetujuan perubahan Perda dari pihak Provinsi.
Sementara itu isu virus corona sangat dirasakan dampaknya pada menurutnya okupansi hotel. Bahkan pihak Hotel Aruna mengaku terdapat tamu grup yang meng-cancel kedatangnya. Yang awalnya datang pada Maret dan April ini.
“Sejauh ini ada tiga grup yang meng-cancel. Tapi kami masih coba follow up siapa tau berkenan merubah jadwalnya,” ungkap Marcomm & Brand Maneger Aruna Senggigi Resort & Convention, Mayang Kristi saat dikonfirmasi Radar Mandalika, kemarin.
Pihaknya cukup sedih dengan kondisi ini. Pasalnya ditengah pariwisata Senggigi yang sudah mulai bangkit pasca bencana gempa. Kini isu corona membuat kondisi kembali berdampak.
“Pastinya kami berharap kondisi segera pulih kembali. Utamanya penyebaran virus cepat teratasi dan tingkat kunjungan wisata dapat kembali stabil,” harapnya.
Sementara itu Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lobar mengakui terdapat beberapa hotel, restoran dan tempat hiburan yang tutup. Hal ini setelah dilakukan penagihan pajak, dan diketahui sudah tak beroprasi. Hanya saja terkait jumlahnya pihak Bapenda masih malakukan pendataan.
“Iya memang ada, seperti Café Ogis, Kumbi, Bintang Senggigi, Citra, Loligo. Kita masih mengumpulkan datanya,” terang Kabid Penagihan Bapenda Lobar, H M Fikri, kemarin.
Tak bisa dipungkiri dampak gempa dan isu corona ini sangat berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak hotel, restoran, dan hiburan. Bagaimana tidak jika dibandingkan dua tahun terakhir, pada 2017 lalu PAD dari pajak tiga sektor itu bisa mencapai Rp 56 miliar. Sedangkan 2018 hanya mencapai realisasi sekitar Rp 39 miliar dan 2019 sekitar 46 miliar.
“Bisa dibilang satu semester 2019 pendapatan dari sektor pariwisata sangat terpengaruh dampak gempa. Semester ke-2 mulai ada kebangkitan, dan mulai mengeliat. Tapi awal semester 2020 ini mulai berdampak dengan isu corona,” terang Kepala Bapenda Lobar, H Ahmad Saikhu.
Meski revisi Perda pajak untuk penurunan pajak restoran dan sebagainya sudah diketok DPRD Lobar. Namun masih tahapannya, difasilitasi oleh pihak Provinsi untuk diteruskan ke memperoleh rekomendasi dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
“Kita masih menunggu pengesahan, karena revisi ini berjenjang dari kabupaten, provinsi baru Kemendagri,” jelasnya.
Tetapi sebelumnya memang sudah ada beberapa tempat hiburan, hotel ada yang sudah tutup. Diakuinya di awal 2020, Januari dan Februari sempat normal. Sedangkan Maret ini dampak corona tak bisa dipungkiri juga mempengaruhi.
“Jelas dampaknya banyak hal yang mempengaruhi. Bisa disaksikan sendiri, mungkin tidak disini saja tetapi secara menyeluruh destinasi di Indonesia,” ucapnya. (win)