Tok, tok, tok, Oknum Dosen UNRAM Diskor 5 Tahun

F ilustrasi

MATARAM – Oknum dosen Unram inisial NIN terbukti melanggar kode etik. Sebelumnya, dia dilaporkan lantaran diduga melakukan pelecehan seksual kepada mahasiswinya saat bimbingan skripsi.

Hasil Majlis sidang etik yang dipimpin Ketua Komisi Etik, Zainal Asikin kemarin diputuskan NIN melanggar Kode Etik dengan sanksi diskor selama 5 tahun. Tidak boleh melakukan kegiatan sebagai dosen selama 10 semester. Tidak hanya itu, NIN juga diberhentikan dari kedudukannya sebagai sekretaris bagian hukum pidana pada fakultas hukum Universitas Mataram. Termasuk juga tidak akan diberikan semua jenis penerimaan tunjungan seperti fungsional, sertifikasi dan remunerasi. Mengingat dosen tidak dapat tunjangan kalau tidak mengajar.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan pelaku sudah memenuhi syarat pelanggaran etika sesuai yang diatur dalam Peraturan Rektor tentang pelanggaran etika Nomor 1 tahun 2011 pasal 2 hurf b, lalu pasal 4 huruf a point empat lima enam. Kode etik melanggar kesusilaan lembaga dosen dimana harusnya sebagai role model panutan tetapi berbuat tidak etis,” beber Zainal Asikin didampingi sekretaris Komisi Etik dalam jumpa persnya di Mataram, kemarin.

Harusnya dosen dituntut menjaga marwah lembaga ternyata tercoreng dengan perilakunya itu.

Zainal menjelaskan, pemenuhan unsur pelanggaran kode etik itu berdasarkan kronologis kejadian. NIN dalam membimbing mahasiswinya (pelapor) meminta duduk di samping harusnya orang bimbingan itu duduk di depan. Kemudian terjadilah tindakan mencoba memeluk, mencoba mencium dan melakukan pegangan tangan (mengelus elus). Meski pelecehan seksual itu tidak dilakukan secara fulgar, tetapi tetap saja hal itu sudah melanggar kode etik.

“Dan itu kejadiannya sekali di tanggal 24 Juni. Setelah itu Pengadu terus waspada tidak lagi mau dibimbing di dalam ruangan,” cerita Zainal.

Terhadap apa yang disampaikan teradu itu ada sebagian dibenarkan misalnya menyentuh tangan. Yang dibantahnya, lanjut Asikin tindakan memeluk. NIN beralasan hanya menepuk pundaknya saja. Tidak hanya itu dalam percakapan WhatsApp juga ditemukan oknum dosen itu mengeluarkan kata-kata merayu dengan menyebutkan cantik. Bahkan setelah kejadian itu dia meminta agar pengadu tidak membesar-besarkan, apalagi melaporkan karena menyangkut nama baik dirinya dan keluarganya.

“Untuk sms ajakan-ajakan tidak ada. Tapi dia minta maaf atas apa yang diperbuatkan itu,” katanya.

Asikin juga menyampaikan ada dua pelapor  mahasiswi lainnya, tetapi mereka melapor hanya melalui pesan WhatsApp saja. Mereka tidak ingin mengekspos karena takut tidak mendapatkan jodoh. Sehingga korban NIN ada tiga satu pelapor resmi yang disidangkan itu dan dua lainnya informal.

“Mereka kirim sms ke saya pernah diperbuat kayak kayak gitu. Tapi jelasnya saya tidak tau yang jelas mereka melapor. Tapi sekarang mereka semuanya sudah jadi alumni,” beber Asikin.

“Itulah yang menjadi pertimbangan Majlis kode etik memberikan sanksi berat,” tambahnya.

Asikin menegaskan, terhadap putusan Majelis etik itu akan diserahkan kepada rektor. Nantinya putusan sanksi yang dijatuhkan kepada NIN berdasarkan surat keputusan rektor. Asikin tidak memungkiri pelaku juga bisa mengajukan banding yaitu melawan putusan rektor itu nanti melalui PTUN.

“Teradu juga punya hak melakukan banding,” katanya.

Asikin mengatakan kejadian ini menjadi pembelajaran. Kedepannya tidak boleh lagi ada ruangan bimbingan yang tertutup setidaknya ada jendela terbuka untuk menghindari kejadian serupa terulang kembali. Nantinya juga pihaknya akan mendorong agar FH Unram membuka krisisi Center (posko aduan).

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum Unram, Hirsanuddin mengatakan, kasus ini merupakan yang pertama dilaporkan mahasiswi.

“Baru kali ini,” katanya.

Hasil sidang Dewan Kode Etik disebutnya menjadi rujukan putusan yang diambil selanjutnya. Pihak kampus sama sekali tidak berniat membawa kasus ini ke aparat penegak hukum (APH).

“Silahkan saja. Kami persilahkan,” katanya.

Untuk menghindari kejadian serupa tidak terulang lagi, fakultas pun akan memasang CCTV di setiap ruangan termasuk ruangan bimbingan yang bertujuan untuk memonitor kegitan. Terkait dengan posko aduan itu ia sendiri belum ada rencana kearah sana justru jika ada mahasiswi yang mengalami hal serupa langsung saja dilaporkan.

“Siapapun yang datang melapor silakan datang laporkan kepada kami,” ungkapnya.

Ditempat yang sama aktivis perempuan NTB, Endang Susilowati mengaku geram. Seharusnya pihak kampus membuat posko pengaduan terhadap kasus serupa. Karena bukan tidak mungkin kasus lain yang terjadi terhadap mahasiswi lainnya juga bisa terungkap.

Dia melihat fakultas yang enggan membuat posko pengaduan terkesan menutup-nutupi kasus yang ada. Seharusnya, lebih terbuka agar oknum oknum yang misalnya berbuat itu bisa tebongkar

“Kami akan tetap dorong agar posko pengaduan dibuat,” tegasnya.

Endang malah melihat kasus dugaan pencabulan disebutnya sudah lama terdengar. Hanya saja, belum satu pun yang dibawa ke proses hukum.

“Dekan ini kurang perspektif soal perempuan. Yang jelas langkah kami akan terus mendorong agar posko pengaduan dibuka di kampus ini,” ungkapnya.

Direktur Badan Konsultasi Bantuan Hukum FH Unram, Joko Jumadi mengatakan, korban dan pihak keluarga hingga saat ini belum memutuskan untuk melaporkan keranah hukum. Korban hanya meminta agar pembimbing nya diganti dan memang dia tidak ingin menghukum oknum dosen tersebut cuma korban melaporkan dengan tujuan jangan sampai kasus ini terulang kembali.

“Sampai saat ini korban belum ada rencana melaporkan ke ranah pidana. Kami menunggu putusan sidang kode etik dulu,” ungkapnya.

Diketahui Majlis sidang kode etik juga mengadili satu dosen lainnya dan diberikan sanksi diskor tidak mengajar selama satu semester. Kasusnya berdasarkan aduan pengadu dosen itu tidak memberikan pelajaran sesuai dengan mata kuliah yang ambilnya. Lalu saat kuliah daring oknum dosen itu meminta mahasiswinya mengisi absen dengan selfy dan terakhir meminta mahasiswanya membuat Tiktok bergoyang. (jho)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Menkopolhukam-Mendagri Turun ke NTB

Read Next

Sosok TGH Habib Ziadi Thohir

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *