banner 300x600

Tangkal Paham Radikalisme Masuk Lombok Timur

  • Bagikan
F TANGKAL
MUHAMAD RIFA'I / RADAR MANDALIKA GROUP TANGKAL : Sejumlah instansi dan organisasi terkait bersama wartawan dan para tokoh, saat membedah dan menangkal masuknya paham radikal masuk ke Lotim, kemarin.

LOTIM – Sejumlah elemen, mulai dari Kemenag Lombok Timur (Lotim), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), MUI, tokoh pemuda dan wartawan, sepakat menangkal paham radikalisme agar tak masuk ke Lotim. Upaya menangkal dan mengantisipasi masuknya paham radikal, dilakukan melalui diskusi publik oleh Forum Wartawan dan Media Online (FWMO) Lotim, di Rempung kemarin.

Mewakili Ketua FWMO Lotim, Lalu Kamil Abu Bakar mengatakan, dialog publik ini bertujuan untuk mengetahui apa itu paham radikalisme, dampak bahaya radikalisme terhadap masyarakat. Termasuk bagaimana menyatukan persepsi tentang bahaya paham radikalisme dan upaya menangkal dan mencegah masuknya paham radikalisme khususnya di Lotim.

banner 300x600

Selain itu lanjutnya, untuk membangun sinergi dengan semua lapisan, dalam rangka menjaga stabilitas keamanan yang kondusif. Termasuk juga mengenai masalah paham radikalisme yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Kami berharap, lahir komitmen bersama menolak masuknya paham radikalisme di Lombok Timur khususnya,” kata Kamil.

Kepala Kemenag Lotim, H Azharuddin mengatakan, berbagai upaya terus dilakukan dalam menangkal masuk dan berkembangnya paham radikalisme di daerah ini. Upaya itu seperti sosialisasi pada masyarakat mau pun di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) yang berada dibawah naungan Kemenag. “Tiga tahun terakhir ini, sosialisasi tantang paham radikalisme menjadi prioritas, sebab menjadi program Menteri Agama,” terangnya.

Ia menyebutkan, masyarakat Lotim masih belum siap dengan masalah perbedaan. Padahal, falsafah negeri ini adalah Bhineka Tunggal Ika. Belum siapnya menerima perbedaan itu, menurutnya menjadi masalah dan berpotensi masuknya paham radikal. “Makanya kami terus memberikan pemahaman agar bisa menerapkan moderasi beragama. Kita tak ingin perbedaan itu, menjadi alat untuk saling tidak menyukai satu sama lain,” tandas Azhar.

Sekretaris MUI Lotim, HM Ali Fikri tegas menyatakan, tidak ingin adanya paham radikalisme. Sehingga lewat MUI atau FKUB Lotim, juga telah melakukan langkah antisipasi dan pencegahan. Pencegahan masuknya paham radikal di wilayah Lotim, mutlak harus dilakukan. Karena itu, ia mengajak terus membangun sinergitas yang kuat dan berkomitmen menolak radikalisme di Lotim. “Membedah paham radikal, tidak cukup sekadar menghadirkan satu agama, tetapi akan lebih mengena bila semua agama hadir, duduk bersama menyatukan persepsi,” ucap Sekretaris MUI yang juga Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama ini.

Sekretaris Bakesbangpoldagri, Zainul Akmal mengungkapkan, paham radikalisme sudah merambat sampai pelosok desa. Khususnya di Lotim, ia tak berani mengklaim tidak ada paham radikalisme. “Menjadi tanggungjawab bersama untuk menangkal, agar paham radikalisme tidak mempengaruhi maayarakat,” katanya.

Disebutkan mantan Camat Sambelia ini, Bakesbangpoldagri dalam mengantisipasi dan menangkal paham radikalisme, melalui beberapa program. Seperti pertemuan lintas agama, lintas tokoh, pemberdayaan dan sebagainya. “Ini beberapa bagian langkah kami meminimalisir keaenjangan sosial ditengah masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Panglima MMI, Taufan Iswandi menilai isu radikalisme seperti hantu, dihadirkan untuk menakut nakuti masyarakat. Menurutnya, menjadi lucu ketika membahas radikalisme, sebab diskusi radikalisme tak pernah ada ujungnya. Pemerintah cenderung meminta masyarakat melakukan deklarasi menolak paham radikalisme, tapi tak pernah dibedah apa itu radikalisme.

Jika paham radikalisme dibedah lanjutnya, yang muncul bukan sentimen agama, akan tetapi sentimen politik untuk menghabisi lawan-lawannya. Justru yang terjadi adalah bergeser ke agama, padahal dalam agama itu harus radikal agar tidak terkontaminasi dengan berbagai godaan.

Menjadi aneh sambung Taufan, ketika Islam yang mati matian membela agama, dituduh sebagai penganut paham radikal. Padahal jelas di Indonesia ada 6 agama, namun yang dipojokkan adalah Islam. Sehingga ia menduga, penebaran paham radikalisme ini adalah proyek. Karena selama ini lembaga berkompeten seperti Bakesbangpoldagri, tak pernah ada mengeluarkan buku panduan radikalisme agar masyarakat paham. “Kalau di Lombok Timur, yang selalu menjadi tertuduh adalah Ponpes Darussyifa. Tuduhan ini sejak lama didapat Darussyifa,” sentilnya seraya menegaskan, kami cinta indonesia dan pancasila sebagai falsafah negara.

Dalam Islam tegas Taufan, jihad itu diatur dan tempatnya pada kondisi-kondisi tertentu, seperti orang kafir menyerang Islam, atau orang kafir menghancurkan Islam. Bukan berjihad menghancurkan sesama Islam. “Tidak ada jihad membunuh sesama Islam. Kecuali orang kafir itu memerangi Islam. Harus diketahui, di agama lain pun jihad itu ada,” tegasnya.

Baginya, di Lotim tidak ada paham radikal. Karena framing yang dibuat pihak tertentu membuat agama menjadi sasaran. Justru yang terjadi sekarang perang pemikiran, yang harus dilawan. Perang pemikiran itu, seperti membuat umat Islam ragu-ragu dengan Islam, membuat budaya Islam terpengaruh supaya terkontaminasi oleh budaya non Islam dan lainnya.

“Islam itu agama rahmatan lilalamain, dibuktikan seperti di Indonesia. Kendati mayoritas penduduknya muslim, namun agama lain tetap dilindungi. Yang radikal itu seperti Amerika memerangi dan menghancurkan negara Islam,” pungkasnya. (fa’i/r3)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *