Polres Loteng Diminta Tangani Kasus Penusukan di Rembitan

WhatsApp Image 2021 06 18 at 06.11.12

DIKI WAHYUDI/RADAR MANDALIKA GROUP KRITIS: Seorang kuasa hukum korban saat melihat kondisi Lanah alias Amaq Milanap yang sedang dirawat di ruang ICU RSUD Praya, Sabtu malam.

PRAYA-Keluarga korban kasus penusukan dengan senjata tajam (Sajam) di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah meminta pihak Polres menangani serius kasus ini. Pasalnya, penanganan di Polsek Pujut dinilai janggal.

Sebelumnya, kronologis kasus penusukan terjadi Rabu (16/6) sekitar pukul 10.15 Wita di Dusun Bontor Desa Rembitan. Korban Lanah alias Amaq Milanap, 60 tahun warga Dusun Sade Desa Rembitan. Terduga pelaku inisial AD warga Desa Rembitan. Saat itu, korban Amaq Milanap dan pelaku pernah bersepakat untuk menjalani sumpah adat dengan bersama minum air dari Makam Nyato. Namun di hari jadwal minum air itu, ternyata di obyek tanah sengketa dengan total luas 2 hektare air yang diambil di Makam Nyato tidak ada. Saat korban berada di seberang jalan, seorang warga Amaq Kanep merupakan tukang bangunan meminta korban untuk berbicara dengan pelaku dengan baik-baik soal tanah yang dipersoalkan ini.  Korban pun merespons dengan menyeberang jalan raya dan menghampiri pelaku, tidak pikir panjang AD pun langsung menusuk korban yang merupakan misannya. Korban ditusuk pelaku dengan sajam beberapa kali, aksi AD ini pun dibantu anaknya. Korban juga dilempar dengan batu dan tidak bisa apa-apa. Di lokasi, korban lari minta tolong karena mengalami luka parah, korban luka dibagian lengan kiri karena sempat menangkis sajam, luka bagian perut sebelah kiri dengan tusukan cukup dalam dan luka di bagian punggung bekas batu.

Namun beruntung, korban bisa melarikan diri. Diketahui kejadian ini oleh anak korban, Amaq Milanap pun dilarikan ke Puskesmas terdekat, karena kondisi parah korban dirujuk ke RSUD Praya sampai sekarang masih kritis dan menjalani perawatan di ruang ICU.

“Makanya kami minta kasus ini ditangani Polres, kalau di Polsek Pujut kami khawatir karena ini masalah nyawa seseorang,” ungkap anak korban, Agus Salim kepada Radar Mandalika, Sabtu malam di depan RSUD Praya.

Agus menceritakan kasus ini dilaporkannya ke Polsek pada hari kejadian pada sore harinya sekitar pukul 15.25 Wita. Namun saat melapor, ada beberapa nama yang dia sebut di hadapan anggota Polsek, justru di dalam laporan nama itu tidak ditulis anggota Polsek dengan dalih akan kesana nanti berdasarkan hasil pengembangan.

“Ada beberapa orang (terduga pelaku, red) masih berkeliaran, jadi kami merasa bagaimana. Kami juga ketakutan, ya kalau bisa penanganan harus ke polres,” pintanya.

Agus juga membeberkan, para saksi dari pihak korban mengaku tidak berani ke Polsek. Untuk itu, dia meminta untuk Polres mengambil alih penanganan kasus ini.”Kami minta dengan sangat-sangat agar Polres tangani kasus ini, agar kami merasa aman dan nyaman,” ujarnya.

Selain itu, Agus juga menyebutkan penanganan dilakukan Polsek ia merasakan tidak puas.”Iya itu, ada beberapa hal saya sebut tapi tidak ditulis,” keluhnya.

Ia juga menjelaskan, sebelum kasus penusukan ini terjadi. Korban dan pelaku yang merupakan keluarga misan sempat berperkara di Pegadilan Agama (PA) Praya atas dalam tanah seluas 2 hektare yang merupakan tanah warisan peninggalan kakenya. Saat itu bertindak sebagai penggugat korban dan pelaku sebagai tergugat. Perkara ini berjalan kurang lebih satu tahun lamanya, dan di PA bulan Mei 2021 keluar putusan dengan dimenangkan oleh pihak korban. Pelaku yang tidak puas baru-baru ini melayangkan banding ke Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Mataram dan sedang berlangsung.    

“Jadi ini masalah awal, kami menang di Pengadilan Agama,” sebutnya.

Sementara kuasa hukum korban, Hery Hartawan dari kantor hukum independent meminta agar kasus ini ditangani serius sesuai prosedur hukum.”Karena ini keluarga, nanti dibelakang kalau mau damai silakan saja. Tapi kami minta proses di polisi agar benar-benar dilaksanakan dulu. Sukur-sukur kalau damai nanti, ini juga harapan kami,” tegasnya.

Hery juga menyebutkan adanya kejanggalan dilakukan penyidik di Polsek. Pasal yang diberikan kepada pelaku tidak seimbang dengan perbuatannya. Hanya pasal 351 hanya ancaman 4 tahun, sedangkan kasus ini murni pengeroyokan. Harusnya pasal 170 ayat (2) dan pasal 2 ayat (2) undang-undangn Darurat nomor 12 tahun 1951.

“Ancamannya harus berat, dan ini jelas bersamaan dilakukan,” terangnya.

Disamping itu, Kapolsek Pujut IPTU Lalu Abdurahman yang dihubungi beberapa kali Radar Mandalika tidak ada jawaban. Berkali-kali di wa hanya dibuka dan tidak dibalas.(red)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Wilgo Putra Lombok Jadi Direktur PT PAL

Read Next

Gubsu-SMSI Sumut Minta Kepolisian Ungkap Penembakan Marsal

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *