Abubakar Abdullah. (WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA)

LOBAR – Pembangunan hotel super megah The Apurva Kempinski di kawasan Pantai Mekaki sejak groundbreaking Juli 2022 lalu hingga kini belum juga terlaksana.

Keseriusan Wings Group selaku investor pun mulai dipertanyakan kalangan DPRD Lombok Barat (Lobar). Pasalnya sudah 8 bulan berlalu namun belum ada pembangunan di atas tanah itu. Meski pihak investor sudah membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebesar Rp 10 miliar kepada Pemkab Lobar.

“Memang BPHTB itu menjadi kewajiban, tapi kalau serius setelah groundbreaking harusnya langsung bangun, ngapain tunggu-tunggu. Sampai sejauh ini belum ada terlihat yang mengindikasikan serius,” ujar Ketua Komisi II DPRS Lobar, Abubakar Abdullah yang dikonfirmasi, Selasa (14/2/2023).

Ia pun menyesalkan belum adanya pembangunan di kawasan itu. Terlepas dari apa yang menjadi kendala di internal perusahaan itu. Ia menegaskan jika Lobar butuh investor yang serius membangun.

“Karena kalau daerah ini mau maju harus segera melakukan transformasi (pembangunan),” tegasnya.

Politisi PKS itu mendesak Pemkab Lobar untuk segera menyurati pihak investor. Bahkan berkoordinasi menanyakan kendala yang mungkin bisa dibantu oleh daerah. Sehingga proses pembangunan hotel itu bisa segera terlaksana sesuai target yang pernah diekspose pihak investor tersebut.

“Biar investasi ini bisa jalan, jangan hanya diliatin dari jauh, dipanggil lah. Kalau eksekutif ndak mau panggil biar kita nanti Komisi II yang panggil,” imbuh pria  asal Sekotong tersebut.

Jangan sampai Pemkab terkesan membiarkan saja. Sehingga kejadian dulu tak terulang kembali dua kali. Groundbreaking dengan investor yang berbeda namun tak terbangun juga. “Ini sudah yang keempat jangan sampai lagi terulang,” pintanya.

Jika pun ada anggapan terkendalanya pembangunan itu karena akses ataupun fasilitas penunjang sinyal internet, menurut Abu, hal itu bukan menjadi sebuah alasan. Sebab sebelum memilih berinvestasi di lokasi itu, sekelas perusahaan besar pasti sudah lebih dahulu melakukan kajian.

“Tidak mungkin mau investasi tanpa melakukan pertimbangan teknis. Tidak mungkin dia mau beli lahan kemudian sudah bayar BPHTB tanpa sebelumnya melakukan kajian,” ujarnya.

Kini hal yang harus menjadi fokus adalah memastikan komitmen pihak investor untuk mulai membangun. Sebab jika dibiarkan justru akan menjadi sebuah kerugian bagi daerah. Karena semakin banyak tanah terlantar yang tak terurus. Tentu itu menjadi suatu kerugian bagi pengembangan pariwisata.

Bahkan ia tak memungkiri pembangunan hotel megah itu akan menjadi magnet menarik investor lain untuk datang membangun di kawasan selatan Lobar itu. Apalagi keberadaan Sekotong yang cukup strategis dari sisi pariwisata diantara kawasan KEK Mandalika dan pulau Dewata Bali.

“Karena kalau orang sudah lihat sekelas Kampingski di situ saya rasa yang lain pasti juga ikut. Itu yang menjadi magnetnya. Sehingga komitmennya harus kita pertegas, ” pungkasnya. (win)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 415

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *