Penuturan Murni, Salah Satu Istri TKI Asal Pujut Lombok Tengah

  • Bagikan
F bok 1 1
FENDI/ RADAR MANDALIKA MEMPERIHATINKAN: Murni saat menggendong anaknya yang berusia 6 bulan, Jumat kemarin.

Dililit Utang, Berangkat ke Malaysia Dalam Kondisi Sakit

Gara-gara dililit persoalan ekonomi. Mulai dari kebutuhan hidup sehari-hari hingga utang bank yang tak kunjung selesai. Hal ini menjadikan seorang TKI ini memutuskan merantau ke luar negeri, tepatnya ke Malaysia. Namun sampai sekarang keluarga masih menanti kabar baik.

FENDI-LOMBOK TENGAH

JUMAT pagi (17/12) minggu lalu, Wartawan Radar Mandalika sempat mendatangi rumah salah seorang tenaga kerja indonesia (TKI) yang merupakan korban speedboat terbalik di perairan Johor, Malaysia. Diketahui alamt TKI itu di Dusun Gampung, Desa Kawo, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Setelah lama mencari tahu alamat rumah korban, ahirnya perlahan identitas korban disebut atas nama Bangsal Udin Basar. Di rumahnya terlihat keluarga yang sedang berkumpul, ada yang duduk di teras, di sekitar emperan rumah juga lokasi teduh demi terhindar dari sinar matahari. Demikian juga sang istri Murni, terlihat duduk meratap sembari mengendong anaknya yang baru berumur 6 bulan.

Murni menceritakan, sang suami berangkat menuju negeri Jiran Malaysia pada Rabu pekan lalu, suaminya berangkat tanpa melalui tekong menuju Batam.  “Saya tidak melarang dia berangkat, dia berangkat melalui pesawat dari BIL menuju Batam, kemudian dari Batam menggunakan speedboat menuju Malaysia,” ceritanya.

Keberangkatan sang suami ke Malasyia diakuinya merupakan yang pertama kalinya setelah mereka menikah dan dikaruniai tiga orang anak. Namun sebelum sang suami menikah pernah merantau ke Malaysia sebanyak dua kali.

Sang istri mengaku tidak melarang suaminya pergi merantau lantaran dililit utang, dimana usaha yang dijalani harus digadaikan disebabkan penyakit yang sempat di derita suami yakni, saraf kejepit. Tak hanya itu ekonominya semakin terhimpit lantaran tidak memiliki lahan pertanian, setoran utang bank, juga kebutuhan anaknya sekolah.

“Sebelumnya sempat buka bengkel, namun bengkel dijual untuk biaya pengobatan dan kebutuhan sehari- hari,” sambung ceritanya.

 Tiga anak yang ditinggalkan sang suami yakni masing-masing berumur 14 tahun ( kelas II SMP), 10 tahun (kelas IV SD), dan terakhir usia 6 bulan.

Sang suami sebutnya sangat merindukan keberadaan anaknya yang baru 6 bulan. Namun dalam komunikasi dirinya sangat kesulitan lantaran tidak memiliki Hp, sehingga harus mendatangi rumah TKI yang berangkat bersama sang suami yakni, Jon asal Balai Montong 1, dan Nasri asal Dusun Batu Bangke Desa Kawo.

“Dia berjanji akan membelikan HP nanti setelah bekerja di sana, dia ingin selalu melihat anaknya,” katanya sedih.

Mengetahui musibah bot terbalik, Murni merasa sangat terkejut sampai hampir lupa diri. Dia juga sempat melihat para korban meninggal yang beredar di facebook, bahkan dirinya juga sempat mengakui salah seorang yang persis suaminya.

“Suami sempat mengatakan untuk jaga- jaga akan menggunakan celana pendek sampai mengamankan identitas dengan tas selempang di dada. Saya sempat akui itu foto suami saya yang beredar di FB, namun temannya bilang itu bukan suaminya karena tidak menggunakan atribut tersebut saat nyebarang,” tuturnya

Sang suami lanjutnya sudah mengamankan identitas diri yakni, KTP dan Kartu vaksin. Sampai saat ini keluarga masih menunggu kabar keberadaan suami di mana. Dia berharap suaminya tetap dalam keadaan sehat walafiat dan bisa bekerja di sana. Kendati suaminya nantinya ditemukan meninggal dunia. Dia berharap mayatnya bisa dipulangkan ke kampung halaman.

 “Kami sangat berharap segera ada kabar,” harapnya.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *