Pembunuh Pelajar di Bypass Ditangkap, Pelakunya Delapan Orang

  • Bagikan
F PEMBUNUHAN
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA AMANKAN: Kapolres Lombok Barat, AKBP Wirasto Adi Nugroho didampingi Kasat Reskrim Polres Lobar Iptu I Made Dharma dan Kasi Humas Iptu Gede Gumiarsana saat menunjukkan barang bukti dan pelaku pembunuhan pelajar 16 tahun, ketika konferensi pers di Mapolres Lobar, Sabtu (11/12).

LOBAR—Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Lombok Barat (Lobar) berhasil mengungkap seluruh pelaku pengeroyokan dan penusukan yang menewaskan pelajar asal Desa Bayumulek Kecamatan Kediri. Para pelaku yang keseluruhannya berjumlah delapan orang merupakan warga Desa Perempuan, Kecamatan Labuapi. Lima diantaranya masih di bawah umur.

Kapolres Lombok Barat, AKBP Wirasto Adi Nugroho didampingi Kasat Reskrim Polres Lobar Iptu I Made Dharma dan Kasi Humas Iptu Gede Gumiarsana mengungkapkan identitas para pelaku. Tiga diantara pelaku yang diperlihatkan berinisial LK (20), PB (22) dan KU (18). Sedangkan lima pelaku lain yang masih di bawah umur inisial IS (16), IH (15), MIH (16), MH (15) dan MN (16) dititipkan di LPA Paramita Mataram.

“Kita sudah mengamankan tersangka yang berjumlah delapan orang, tiga orang dewasa, lima masih dibawah umur,” ungkapnya saat konferensi pers di Mapolres Lobar, Sabtu (11/12) lalu.

Para pelaku itu diamankan dalam kurun waktu 1x 24 jam sejak peristiwa yang terjadi Sabtu (4/12) lalu di jalur bypass BIL II. Tepatnya di depan kuburan Dusun Jerneng Desa Terong Tawah Kecamatan Labuapi. Meski pelaku LK yang menusuk korban lari dan bersembunyi ke Kayangan Lombok Timur, namun polisi berhasil mengamankannya.

 “Dari penangkapan satu orang kita bisa mendapat informasi dan mengamankan enam orang lainnya,” bebernya.

Ia menceritakan kronologi kejadian yang sempat viral di masyarakat itu. Berawal dari tatapan mata korban ke pelaku, pelaku tega mengeroyok hingga merengut nyawa JR pelajar berusia 16 tahun. Sebelumnya di malam kejadian itu, korban bersama kedua temannya mengendarai satu motor pergi menikmati malam minggu ke Kota Mataram. Sepulangnya, korban melintasi jalan bypass di tugu Tembolak Mataram. Tanpa sengaja salah seorang temannya melihat ke arah para pelaku yang sedang nongkrong.

“Saat melintas di TKP, korban dan pelapor didekati oleh pelaku-pelaku ini, kemudian ada tindak pidana pengeroyokan di situ. Pelaku LK melakukan penusukan kepada korban dari punggung belakang tembus hingga bagian depan,” bebernya.

Meski korban sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, nyawa remaja asal Desa Banyumulek itu tak bisa diselamatkan. Korban menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Tripat Gerung Minggu dini hari, pukul 01.50 Wita.

 “Atas laporan itu, kami Polres Lobar bersama Polsek Labuapi dan dibackup Polda NTB melakukan penyelidikan dan pengejaran setelah mengantongi salah satu nama pelaku MIH. Dari penangkapan itu kita kembangkan dan menangkap enam pelaku lainnya,” jelasnya.

Pelaku LK ternyata sudah biasa membawa sejata tajam jenis pisau bersarung kayu itu. Bahkan LK menyimpannya di bagian pinggang lurus hingga paha. LK sendiri berdalih membawa senjata tajam sebagai alat melindungi diri. “Motifnya setelah kita melakukan pemeriksaan saksi-saksi dan tersangka, karena melihat teman-temannya mengeroyok korban, LK langsung melakukan penusukan terhadap korban. Kalau pelaku lain motif awalnya karena saling lihat saja, dan tersinggung,” jelasnya.

Kini ketiga pelaku berumur dewasa itu diamankan di Mapolres Lobar bersama sejumlah barang bukti. Termasuk celana korban yang penuh noda darah. Sedangkan lima pelaku lain di bawah umur dititip di LPA Paramita. Kemudian pasal yang disangkakan, pasal 76c, pasal 80 Ayat (1), Ayat (2) dan Ayat (3) UU Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002, tentang perlindungan anak dan atau pasal 170 Ayat (1) dan Ayat (2) Ke-1, Ke-2 dan Ke-3 KUHP. Dengan ancaman maksimalnya 15 tahun.

Sebagai langkah pencegahan terhadap peristiwa serupa, Polres Lobar tetap melaksanakan patroli yang ditingkatkan di setiap malam minggu melalui patroli Blue Light dan patroli Sabhara. “Namun kami juga meminta bantuan kepada pemerintah daerah untuk masalah penerangan,” ujarnya.

Penerangan itu terutama di tempat-tempat di wilayah hukum Polres Lombok Barat yang rawan tindak kriminalitas. “Penerangan, untuk mengurangi dan mencegah angka kriminalitas di lokasi rawan kriminalitas tersebut,” tandasnya. (win)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *