Oknum Dosen di UNRAM Diduga Cabuli Mahasiswi

F ilustrasi

MATARAM – Nama baik Kampus Universitas Negeri Mataram (UNRAM) kembali tercoreng. Penyebabnya, adanya dugaan pencabulan dilakukan oknum dosen Fakultas Hukum (FH) UNRAM inisial NIN dengan korban mahsiswinya inisial, YN warga Gunung Sari, Lombok Barat.

Informasi diterima, dugaan pencabulan ini dilakukan di ruang Fakultas Hukum UNRAM saat dilakukan pembimbingan skripsi.

Kasus ini terbongkar ketika korban buka suara. YN menceritakan kasus yang menimpanya kepada keluarga. Tidak hanya itu, YN juga curhat kepada Joko Jumadi yang merupakan Direktur Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Fakultas Hukum Unram.

“Saya sejak awal juga sudah komunikasi dengan korban sebelum kasus ini mencuat di media,” beber Joko saat dikonfirmasi Radar Mandalika, kemarin.

Berdasarkan cerita YN, kasus pencabulan itu terjadi sekitar akhir Juni lalu dan hanya dialaminya satu kali saja. Mendengar certita korban yang mana merupakan tetangga dari Joko sendiri, dia langsung menyampaikan masalah tersebut kepada pimpinan FH UNRAM.

“Dia cerita ke saya tanggal 6 Juli dan langsung hari itu saya sampaikan ke Pimpinan fakultas,” kata Joko.

BKBH FH UNRAM tentu tidak akan tinggal diam. YN akan mendapatkan pendampingan hingga tuntas seperti layaknya kasus UU ITE yang menimpa guru honorer SMA, Baiq Nuril Makmun. Pihaknya juga meminta UNRAM agar melakukan investigasi. Sebab rumor yang dia dengar korban pencabulan yang dilakukan oknum dosen itu bukan hanya satu melainkan lebih.

“Saya belum bisa pastikan (jumlah korban). Makanya untuk itu menurut saya perlu ada tim investigasi dari Unram,” desak Joko.

Katanya, kasus ini sudah di meja Dekan FH. Untuk itu pihaknya masih menunggu apa keputusan komisi etik yang informasinya, Selasa (21/07) akan dilakukan sidang etik kepada oknum dosen tersebut.

Joko tidak menampik kasus ini juga sangat memungkinkan bisa didorong keranah pidana. Namun untuk kepastiannya BKBH FH UNRAM akan melakukan komunikasi terlebih dahulu dengan korban usai sidang etik tersebut.

“Dalam kasus ini, BKBH FH UNRAM ada dalam posisi melindungi dan mendampingi korban sebagaimana kasus Baiq Nuril,” tambahnya.

Terpisah, Rektor UNRAM, HL Husni mengaku sangat menyangkan jika hal itu benar terjadi. Terlebih para dosen di UNRAM sendiri merupakan figur yang dibugu dan ditiru namun berbuat amoral. Selama ini pihak rektorat selalu mengajak mereka bisa menjadi tauladan. Saling mengajak kepada kebaikan itu tidak hanya di internal dosen melainkan juga sesama mahasiswa.

“Tetap kita sayangkan kalau teman-teman yang jadi figur dibugu dan ditiru harus lah memberikan teladan,” kesalnya.

Terhadap dugaan itu sesuai dengan mekanisme yang berlaku pihak fakultas membuat tim teridiri dari unsur pimpinan fakultas, BEM Senat, Mahasiswa dan lainnya bekerja untuk mengkaji, memproses hingga memberikan putusan atas dugaan tersebut tentu sesuai dengan bukti yang ada.

“Tim ini bekerja secara Profesional. Timnya sedang bekerja,” kata Husni.

Husni mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara hukum sehingga semua harus diselesaikan sesuai aturan yang berlaku. Dugaan pencabulan itu, lanjut Husni masuk pelanggaran kode etik maka sesuai peraturan Rektor atas kode etik perkara itu diselesaikan secara etik.

Namun demikian Husni tidak mempersoalkan jika dugaan pencabulan itu dibawa keranah hukum kalau si korban merasa keberatan dia bisa melaporkan ke Aparat Kepolisian.

“Kalau persoalan hukum korban merasa dirugikan tentu bisa melapor,” katanya.

Husni menyampaikan semua kejadian bisa diambil untuk pembelajaran, diberikan sangsi yang tegas sesuai dengan peraturan yang ada jika betul terjadi. Pihaknya pun  juga tidak boleh semena mena keluar dari aturan yang ada.

Disinggung tidak kah mencoreng kampus?

Husni kembali mengingatkan bahwa kasus ini sedang berpose sedang diselidiki. Semua pihak harus menerapkan azaz praduga tidak bersalah (Presumption of Innocence).

Husni juga menyampaikan banyak membaca  media sosial berbagai masukan agar oknum dosen tersebut dipecat. Namun dalam hal ini jika mereka ASN maka yang boleh memecta adalah kementerian. Terkecuali mereka dosen honorer atau dosen kontrak dan jika benar terbukti bersalah langsung akan dipecat.

“Saya banyak dengar minta di pecat-pecat. Tapi itu bukan ranah kampus,” ujarnya tegas.

Sementara, Ketua Majelis Etik Fakultas Hukum Unram, Zainla Asikin menyamapaikan sidang kode etik akan berlangsung Selasa (21/07) ini secara terbuka. Sebab dalam hal ini sesuai ketentuan masuk dalam ranah kode etik.

 Asikin juga menyarankan agar kasus tersebut dibawa ke aparat penegak hukum, sehingga dari penyidikan hingga hasil putusan pengadilan, Majelis Etik dapat mengeluarkan putusan terhadap oknum dosen tersebut.

“Kita bicara sanksi, norma hukum berbeda dengan norma etik dan berbeda sanksinya. Tidak bisa orang melanggar kode etik di hukum dengan norma hukum,” katanya.

“Kalau pelanggaran kode etik hukuman terberat penurunan pangkat, dan pencopotan jabatan sebagai sekretaris jurusan,” katanya.(jho)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

BARU Terima SK Dukungan Demokrat

Read Next

Tak Ada Pernikahan, Hanan Lapor Balik

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *