Nodai Anak Kandung, Mantan Anggota Dewan NTB Ditahan

Ditahan

POLRESTA/RADAR MANDALIKA TERSANGKA: Terduga pelaku pencabulan putri kandungnya, AA ditahan oleh kepolisian di Mapolresta Mataram.

MATARAM – Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Mataram mengamankan seorang mantan anggota DPRD NTB empat priode, inisial AA, 65 tahun, warga Kota Mataram. Dia ditangkap karena kelakuannya sungguh keterlaluan. Dia tega mencabuli anak gadisnya inisial WM, 17 tahun.

“Kami mengamankan seorang pelaku dugaan pencabulan dengan korban anak kandungnya. Pelaku ini mantan anggota DPRD Provinsi NTB,” ungkap Kapolresta Mataram, Kombes Pol Heri Wahyudi, saat press release, pekan kemarin.

Kasus ini direspons dan ditangani cepat oleh pihak kepolisian. Dengan mengantongi sejumlah bukti permulaan yang cukup. Antara lain, hasil visum, selembar handuk dan celana dalam korban. Kini, AA sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pencabulan anak gadisnya.

“Melalui gelar perkara penyidik sudah yakin dengan bukti yang dikantongi. Pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka,” beber Heri.

Mantan anggota DPRD NTB itu dijerat pasal 76 E Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 23 tahun 2002  tentang Perlindungan Anak Juncto pasal 82 ayat (2) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang  (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman maksimal 15 tahun. 

Adapun peristiwa kronologis peristiwa dugaan pencabulan ini terjadi pada Senin (18/01) sekitar pukul 15.00 Wita. Bertempat di kediaman korban di Kecamatan Sekarbela Kota Mataram. Saat itu, korban sebut saja namanya Bunga sendiri berada di rumah. Sementara, sang ibu sedang menjalani perawatan di rumah sakit berjuang melawan Covid-19 dan dijaga oleh kakak korban. Naluri bejat pelaku timbul dengan kondisi rumah yang sepi. “Dari situ kejadiannya berawal,” ujar Heri. 

Karena trauma dengan kejadian tersebut. Korban melaporkan kejadian yang dialaminya di Polresta Mataram, Selasa (19/01). Laporan ini langsung ditindaklanjuti dengan memeriksa keterangan saksi-saksi. Berbekal keterangan saksi dan hasil visum. AA diperiksa dan diamankan kepolisian. Sebelum akhirnya ditetapkan menjadi tersangka.

“Korban sudah divisum dan memang dan ditemukan ada sobekan. Korban sekarang tetap didampingi penyidik PPA Polresta Mataram,” kata Heri.

Awalnya pelaku memanggil dan menyuruh korban mandi. Saat anaknya mandi, AA masuk ke dalam kamar. Selesai mandi, korban yang masih menggunakan handuk, kaget melihat bapaknya sudah berada di kamarnya. AA selanjutnya menarik bahu dan membaringkan korban.

“Lalu pelaku meminta korban membuka handuknya. Di situlah sempat terjadi pencabulan terhadap korban,” kata Heri.

Pelaku dihadirkan saat press release Polresta Mataram. Di depan petugas, dia tidak mengakui kelakuan bejatnya. Dengan dalih tidak pernah melakukan perbuatan tidak senonoh tersebut. Tapi bukti yang dipegang tidak bisa ia sangkal. Pria bau tanah itu tetap menyangkal. “Tidak, masak sama anak kandung sendiri,” cetus dia.

Mantan anggota DPRD NTB ini berdalih ingin bertemu sang anak karena sudah lama tidak bertemu. “Ini anak kandung saya. Sudah lama saya tidak ketemu. Dia mau masuk perguruan tinggi dan minta kebutuhan-kebutuhannya. Dia minta handphone, minta uang untuk les. Sudah itu saja,” beber dia tanpa menunjukkan penyesalan.

Kepolisian menganggap apa yang dia katakan itu merupakan hal yang biasa tentang sangkalan dan bantahan pelaku. Akan tetapi, pihak kepolisian sudah mengamankan beberapa bukti. “Kita punya bukti. Tidak masalah,” tegas Kapolresta Mataram.

Sementara, tersangka yang juga kader PAN NTB inisial AA ditegaskan tim formatur DPW PAN NTB, Muazzim Akbar sudah dipecat.

Muazzim menjelaskan, DPP PAN menilai apa yang dilakukan AA sudah tidak bermoral sekaligus mencoreng nama partai. “Tidak ada kader PAN seperti itu. Siapapun kader PAN, baik yang ada di NTB dan Indonesia tidak ada seperti itu,” tegasnya.

DPP PAN sangat mengutuk keras tindakan asusila AA terhadap anak kandungnya sendiri. Malah, DPP PAN sudah memberikan keputusan tegas untuk memecat AA mantan anggota DPRD NTB empat periode itu secara tidak hormat dari keanggotaan partai.

“Kami telah berkoordinasi dengan DPP, bahwa PAN sangat menyayangkan hal ini bisa terjadi kepada oknum kader PAN. Untuk itu, sikap PAN tegas memecat saudara AA secara tidak hormat dari kader partai,” tegas pria yang sebentar lagi akan dilantik sebagai ketua DPW PAN NTB itu.

Muazzim mengatakan surat pemecatan AA sebagai kader sudah diterbitkan DPP PAN. Pasalnya, yang berhak memecat adalah DPP. Sebelumnya Muazzim mengaku sudah mengusulkan AA untuk dipecat.

Dari prakongres PAN di Kendari, lanjut dia, Sulawesi Tenggara pada Februari 2020, AA sudah bukan lagi kader PAN. Karena berseberangan dengan kebijakan PAN NTB dalam mengusung calon Ketua Umum Zulkiefli Hasan.

“Kita berkomitmen saat itu bagi kader yang tidak sejalan kita pecat. Terbukti lima orang Ketua DPD PAN Kabupaten sudah kita pecat. AA menjadi pengurus sudah tidak lagi, bahkan Kartu Tanda Anggota (KTA) PAN sudah kita cabut,” katanya.

Pihaknya juga meminta aparat penegak hukum (APH) agar memberikan hukuman seberat-beratnya kepada mantan anggota DPRD NTB berinisial AA (65) yang diduga telah melakukan asusila terhadap anak kandungnya sendiri. Permintaan itu, menyusul dengan adanya desakan langsung dari pihak DPP PAN.

“Sesuai perintah DPP PAN, kita ingin mengetuk dari hati aparat penegak hukum. Kalau ini benar, supaya diberikan sanksi yang seberat-beratnya,” katanya.

Meski demikian, ia secara pribadi mengaku sangat menyayangkan adanya hal tersebut. Disisi lain, kata Muazzim, bahwa apa yang telah terjadi bukan urusan partai. “Sebagai saudara, teman dan sahabat tentu saya sangat menyayangkan itu terjadi. Mudah-mudahan saja apa yang terjadi itu tidak benar,” ucapnya.

Untuk diketahui, AA yang ditetapkan sebagai tersangka kasus asusila terhadap anak kandungnya terancam 15 tahun penjara. “Sesuai dengan sangkaan pidananya, yang bersangkutan terancam hukuman paling berat 15 tahun penjara ditambah sepertiga dari ancaman pidana pokoknya,” tutur Kapolresta Mataram, Kombes Pol Heri Wahyudi belum lama ini.

Ancaman hukuman itu, sesuai sangkaan Pasal 82 Ayat 2 Perppu 1/2016 Juncto Pasal 76E Undang-Undang Nomor 35/2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

“Kami terapkan ayat 2 karena yang bersangkutan ini adalah ayah kandung korban makanya ada tambahan sepertiga ancaman hukuman dari pidana pokoknya,” imbuh Kasat Reskrim Polresta Mataram Kompol Kadek Adi Budi Astawa terpisah.

Salah satu alat bukti yang menguatkan AA sebagai tersangka adalah hasil visum luar kelamin korban. Dalam catatan medis korban, terdapat luka baru dengan bentuk yang tidak beraturan pada kelamin dan juga payudara korban.

Dikatakan, AA kini telah ditahan. Pihaknya melakukan penahanan terhadap AA terhitung sejak ditetapkan sebagai tersangka pada Rabu (20/1) lalu. Korban dalam kasus ini merupakan anak kandung tersangka dari istri keduanya. Korban diketahui anak gadis yang berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

Dalam laporannya di Mapolresta Mataram, korban mengaku mendapat perlakuan tidak senonoh dari ayah kandungnya pada tanggal 18 Januari 2021. Kepada polisi, korban mengaku perbuatan itu terjadi ketika ibu kandungnya sedang menjalani perawatan medis di rumah sakit karena terjangkit COVID-19. (jho/hms/zak)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Ribuan Warga Lingkar PT AMNT Akan Turun Demo

Read Next

Perjalanan Dedi Hamdani, Prajurit TNI yang Gugur di Papua

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *