Minta Aparat Berikan Hukuman Berat

F ilustrasi seksual 1

Ilustrasi

MATARAM – Warga Kota Mataram digemparkan dengan terungkapnya kasus dugaan pelecehan seksual korban putri  kandungnya inisial MW, 17 tahun. Terduga pelaku ayahnya, ia pernah duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTB, inisial AA, 65 tahun.

Kasus ini terjadi pada saat sang istri sedang dirawat di rumah sakit berjuang melawan virus korona atau covid-19 setelah dinyatakan terpapar.

Sekarang kasus ini sedang tengah ditangani Polresta Mataram. Sang ayah sudah diamankan aparat kepolisian. Sejumlah barang bukti turut diamanakan, antara lain berupa handuk dan celana dalam korban.

Terkait peristiwa pelecehan anak tersebut. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram, Hj. Dewi Mardiana Ariany, angkat bicara. Dia sendiri sangat menyayangkan kasus pelecehan terhadap anak yang kembali terjadi di wilayah ibu kota Provinsi NTB tersebut.

Terlebih peristiwa tersebut terjadi pada anak yang dilakukan oleh ayah kandung sendiri, yang merupakan mantan anggota DPRD NTB. “Saya kutuk sih dia. Biadab,” kesal Dewi dengan nada marah, kemarin (21/01).

Peristiwa pelecehan anak tersebut tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Oleh  karena itu, Dewi mendorong aparat penegak hukum (APH) agar mantan anggota DPRD NTB itu harus dijerat dengan hukuman berat sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini supaya memberikan efek jera dan menjadi pelajaran.

“Saya sangat tidak setuju. Lebih baik dia dihukum berat sesuai dengan Undang-undang Perlindungan Anak (UU PA),” tegas Dewi.

Perempuan berjilbab ini mengutarakan, kasus pelecehan tersebut kini sudah ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Mataram. Dewi mengatakan, pendampingan terhadap anak harus tetap dilakukan. Termasuk dari sisi psikis agar korban tidak mengalami tekanan psikis.

“Tetap pasti dengan psikolog untuk menguatkan dia (korban) kembali walaupun itu berat. Tetapi memang harus,” kata dia.

Namun begitu, pendampingan dari segi psikis terhadap korban kasus pelecehan ini juga menjadi sangat penting. “Jangan sampai anak ini down, kemudian tidak mau melakukan apa-apa. Dan, kita tidak mau hal-hal yang negatif (terjadi). Seperti, jangan sampai bunuh diri dan lain-lain,” harap Dewi.

Menurut dia, faktor ekonomi sangat kecil kemungkinan menjadi pemicu penyebab terjadinya dugaan kasus pelecehan ini. “Mau dibilang faktor ekonomi, tidak juga yang ini kan. Bagaimana dengan tingkah laku ayahnya dari sisi moralnya? Bukan karena ekonomi, maksud saya rumahnya tidak ada sekat gitu,” cetus Dewi.

Dalam kasus pelecehan yang lain yang pernah terjadi dilakukan oleh orangtua, ujar dia, rumah yang tidak ada sekat juga menjadi pemicu terjadinya kasus pelecehan anak. “Karena rumah tidak ada sekat, jadi hari-hari dia melihat. Kemudian orang tua ini bagaimana karakternya. Kemudian bagaimana pendalaman agama dia,” cetus Dewi.

Selanjutnya, apakah DP3A Kota Mataram akan melakukan upaya pendekatan ke pihak sekolah tempat korban mengenyam pendidikan?. “Karena dia (korban) SMA, LPA (Lembaga Perlindungan Anak) Provinsi NTB pasti turun. Saya juga masih tetap di Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA),” kata Dewi.

Kata dia, saat ini pihaknya juga belum berkoordinasi dengan keluarga korban. Namun begitu, pihaknya nanti pasti akan mengambil langkah. “Pasti (arah) ke situ,” singkat Dewi.

Lebih lanjut dikatakan, selama di bulan Januari 2021 ini saja sudah ada lima kasus perempuan dan anak di Kota Mataram. Di dalamnya termasuk kasus terbaru dugaan pelecehan anak yang tengah ditangani Polresta Mataram.  Dari empat kasus sebelumnya, juga satu diantaranya disebut kasus pencabulan.

Sedangkan sepanjang tahun 2020, ujar Dewi, pihaknya telah menangani sebanyak 17 kasus perempuan dan anak. Dari jumlah itu, kasus perempuan ada 12 kasus, dan ada lima kasus anak. “Lebih banyak perebutan anak. Itu yang banyak kita dampingi. Sudah (selesai semua),” kata dia. (zak)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

TGB Atsani : Sudah Tidak Ada Lagi Dualisme NW

Read Next

Warga Pengembur Ancam Kembali Blokir Jalan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *