PRAYA – Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) telah mendapat penghargaan sebagai kabupaten penyangga pangan nasional. Tapi kini harus menghadapi harga beras yang mengalami peningkatan signifikan. Padahal, hasil panen padi selalu surplus hampir 50 persen dari kebutuhan pangan masyarakat per tahun.

Kabid Pertanian Dinas Pertanian Loteng, Zaenal Arifin mengungkapkan, Senin (12/9) pihaknya telah menggelar rapat koordinasi dengan tim pangan Loteng. Diantaranya dengan Asisten I Setda Loteng, Bulog, Bank Indonesia (BI) serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). Rapat yang digelar Senin (12/9) itu guna membahas soal inflasi imbas kenaikan harga beras.

Dia menerangkan, petani di Loteng tidak pernah menjual beras, tapi menjual gabah. Setelah menjadi beras sudah pasti ada di pengepul, tempat penggilingan padi dan pengusaha.

“Tentu kalau sudah menjadi beras bukan ranah kami, karena kami pada ranah produksi, selanjutnya merupakan ranah Dinas Ketahanana Pangan serta Disprindag Lombok Tengah,” jelasnya.

Adapun hasil rapat koordinasi tersebut, Asisten I Setda Loteng mendorong Bulog dengan target pengadaan beras di bulan September sebanyak 145.000 ton, dengan realisasi 50 persen lebih. Kemudian BI dan Dinas Ketahanan Pangan juga ikut serta ambil bagian sesuai peran masing-masing. Sementara Dinas Pertanian menyatakan tiap tahun hasil panen padi selalu surplus.

Logikanya, apabila dikalkulasikan dengan jumlah penduduk Loteng sebanyak 1,2 juta jiwa, dengan 450.000 ton gabah sama dengan 292.000 ton beras. Kemudian kebutuhan masyarakat Loteng sebesar 148.500 ton per kapita per tahun. Maka kebutuhan Loteng hampir setengah hasil panen, artinya mengalami surplus beras hingga di angka 143.000 ton.

“Saya sempat keliling mengecek keberadaan beras di tingkat petani serta gabah masih ada. Hal ini tercermin saat adanya acara kematian, tasyakuran di tingkat masyarakat selalu banyak beras dibawa masyarakat ke rumah pemilik acara untuk dibawa masyarakat,” ujarnya.

“Dibilang langka saya tidak setuju. Seperti di lapangan kalau orang roah pasti banyak beras. Ini hanya persoal harga beras yang naik saja. Karena jika dibanding tahun 2022, luas tanam tahun 2023 ini menjadi lebih banyak sekarang. Dimana kita kelebihan 3.000 hektare tahun ini dari luas tanam normal Loteng,” tandasnya. (tim)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 433

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *