TANGANI KASUS: Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polres Lobar yang menangani kasus pencabulan kakek asal Batulayar terhadap empat bocah. (WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA)

LOBAR—Satreskrim Polres Lombok Barat (Lobar) menahan seorang kakek berusia 50 tahun inisial AR atas kasus pencabulan anak di bawah umur. Kakek yang berasal dari salah satu desa di Kecamatan Batulayar itu diduga mencabuli empat bocah tetangganya.

Kasus itu sedang dalam tahap sidik penyidik Satreskrim Polres Lobar. Enam orang saksi termasuk empat orang korbannya sudah dimintai keterangan atas kasus tersebut.

“Pelaku Inisial AR sudah kami lakukan penahanan sejak 12 Mei lalu,” kata Kasat Reskrim Polres Lobar, Iptu I Made Dharma Yulia Putra dikonfirmasi, Kamis (25/5).

Sejauh ini sudah ada empat pelapor yang menjadi korban dan melapor ke pihak kepolisian. Usia korban antara 5-9 tahun. Dari hasil pemeriksaan, aksi pencabulan dilakukan pelaku di sebuah rumah pohon di dekat kediaman pelaku.

Menurut Dharma, terbongkarnya kasus itu berawal dari salah satu anak yang menjadi korban menceritakan kejadian yang dialaminya setelah mengeluh kesakitan pada bagian alat vital nya.

“Setelah diinterogasi oleh ibunya, anak itu mengakui pelaku inisial AR yang melakukan perbuatan pencabulan terhadap korban,” beber nya.

Dari satu korban itu, terbongkar lah seluruh korban lainnya yang turut melaporkan tindakan bejat kakek itu kepada kepolisian. Warga pun sempat merusak rumah pelaku setelah mengetahui tindakan kakek bejat itu karena geram.

“Pelaku ini melakukan aksinya dengan mengiming-imingi korban akan diberikan pinjaman handphone makanya korbannya mau,” imbuhnya.

Proses penyidikan tetap berjalan. Pelaku merupakan tetangga para korban dan sudah memiliki istri, anak hingga cucu. Pemeriksaan sementara tak ada ditemukan penyimpangan seksual dari kakek yang berprofesi sebagai pedagang itu. “Prosesnya sudah dilakukan penahanan dan pemberkasan sedang berlangsung, akan segera kita kirim ke Kejaksaan tahap 1,” tegas Kasat Reskrim Polres Lobar ini.

Saat ini para korban sudah mendapatkan pendampingan dari berbagai pihak terkait guna membantu menghilangkan trauma mereka. Pelaku dijerat dengan pasal 82 Undang-Undang RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.(win)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *