Istri Covid-19, Mantan Dewan Cabuli Anak Gadisnya

F ilustrasi seksual

Ilustrasi

MATARAM – Lembaga Perlindungan Anak (LPA) kota Mataram mendorong mantan anggota DPRD NTB inisial, AA (65) yang diduga mencabuli anak kandungnya inisial WM (17) agar dihukum berat.

Ketua LPA Kota Mataram, Joko Jumadi menegaskan, kasus tersebut merupakan kejahatan yang luar biasa. Untuk itu, aparat kepolisian diharapkan menggunakan pasal 81 ayat 3 UU Perlindungan Anak yang ancamannya minimal 7 tahun penjara. Diketahui, AA telah diamankan Polresta Mataram karena diduga telah berbuat asusilas terhadap anak gadisnya dari isteri kedua. AA pernah menjabat sebagai wakil rakyat selama 5 tahun. LPA kota Mataram sendiri tentu akan mengawal korban.

“Dari LPA Kota Mataram dan Sakti Peksos yang mendampingi korban,” kata Joko.

LPA mengetahui kasus tersebut setelah Polresta menerima laporan korban dan seketika itu berkoordinasi dengan LPA mengingat korban masih kategori anak anak. Joko sendiri tidak mengetahui kronologis detailnya hal itu merupakan ranah pihak kepolisian namun terkait dengan laporan itu dirinya langsung dikonfirmasi.

“Dalam kasus ini Polresta langsung berkoordinasi dengan kita. Kemarin mereka langsung infokan karena korban anak anak,” kata Joko.

Dalam kasus itu, penanganannya di bawah Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal Polresta Mataram. Korban yang merupakan akan kandung terlapor dari istri kedua AA masih duduk di bangku Sekolah Menangah Atas (SMA). Dia Melaporkan ayah kandungnya karena perbuatan tidak senonoh yang dialami korban pada 18 Januari kemarin. Kepada Polisi Korban mengaku perbuatan itu terjadi ketika ibu kandungnya sedang menjalani perawatn medis di rumah sakit yang terjangkit Covid-19. Berdasarakan keterangan Polreta Mataram, keterangan korban dikuatkan dengan dokumen dari rumah sakit terkait visum luar dibagian kelaminnya dimana ada luka robek baru pada kelamin korban. Joko sangat menyesalkan kejadian tersebut. Orang tua yang seharusnya jadi pelindung anak malah berbuat yang tidak terpuji.

“Maka saya bilang ini adalah kejahatan yang luar biasa. (Mendorong dihukum semaksimal mungkin?) Iya,” ungkapnya.

Sementara itu Kasat Reskrim Polreta Mataram, Kompol Kadek Adi Budi Astawa yang coba dikonfirmasi koran ini belum memberikan keterangan. Informasi yang didapatkan Radar Mandalika, kasus tersebut masih dilakukan tahap penyelidikan. Reskrim masih mengumpulkan alat bukti sehingga selanjutnya akan dilakukan gelar perkara. (jho)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Pemkab Lobar Melawan

Read Next

Warga Ranggagata Datangi Inspektorat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *