PRAYA – Harga beras mengalami kenaikan sejak beberapa waktu terakhir. Dimana sejak awal panen lalu harga beras dengan kualitas premium berkiasar Rp 9.000 per kilogram. Namun saat ini harganya sudah tembus di angka Rp 13.000 per kilogram.

Kenaikan harga beras ini dinilai masyarakat cukup cepat dibandingkan dengan tahun- tahun sebelumnya. Dimana biasanya harga beras mulai menguat sejak mulai masa tanam padi hingga menjelang panen.

Salah seorang warga, Aminah menjelaskan jika kenaikan harga tersebut membuat masyarakat khawatir jika harga beras akan meroket beberapa waktu ke depan. Dimana ia memperkirakan kenaikan harga bisanya meroket sejak awal tanam padi hingga menjelang masa panen.

“Sekarang saja sudah cukup mahal bagi masyarakat, kita tidak tahu nanti di musim tanam harganya akan setinggi apa,” jelasnya.

Ia menyebutkan, di tahun- tahun sebelumnya kenaikan harga beras pada masa tanam padi cukup tinggi. Bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan dengan harga beras saat musim panen. Namun demikian karena beras merupakan kebutuhan pokok, ia mengaku tetap membeli kendati dengan jumlah yang sedikit.

“Mau murah atau mahal tetap kita beli, karena kita tidak cukup kalau tidak ada nasi,” katanya.

Hal senada juga disampaikan warga lainnya, Nila. Dimana kenaikan harga beras diperkirakan akan terus meningkat hingga musim panen padi tahun depan. Sebagai penjual beras, dirinya mengaku kenaikan harga saat ini masih tidak terlalu memberatkan warga, pasalnya warga masih bisa membeli beras dengan jumlah yang cukup tinggi.

Namun sebutnya penurunan jumlah pembelian beras di masyarakat biasanya akan turun pada musim tanam. Hal ini diakibatkan kenaikan harga yang biasanya cukup tinggi dan juga daya beli masyarakat yang menurun lantaran tidak adanya pemasukan setelah musim panen tembaku.

“Sekarang musim tembaku, dengan harga segitu pembeli masih bisa beli 25 kg sampai dengan 50 kg,” sebut Nila.

Mmenyinggung keuntungan dari kenaikan harga jelang musim panen nantinya. Pihaknya menjelaskan jika penjual hanya bisa mendapat keuntungan seperti biasanya. Pasalnya kendati harga jual tinggi namun permintaan yang menurun, terlebih setelah lonjakan tersebut nantinya harga akan turun setelah masa panen.

“Kalau kita hitung sama saja keuntungannya, karena pembeli hanya membeli dengan jumlah yang sedikit, paling 3 kg sampai 5 kg kalau mahal,” jelasnya.

Sementara warga lainnya, Wathan berharap agar pemerintah bisa mengantisipasi kenaikan harga beras. Jika kenaikan tidak mampu di stabilkan nantinya dikhawatirkan warga tidak akan mampu membeli beras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Harapan kita pemerintah bisa segera bertindak agar harga tidak terus meningkat,” harapnya. (ndi)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 424

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *