FOTO DIKI WAHYUDI/RADAR MANDALIKA PERJUANGAN: Raitah nenek dari Egi Melgiansyah saat diwawancarai, 29 Oktober 2022.

 

Egi Melgiansyah usia 10 tahun merupakan anak dari desa transmigrasi Desa Sukadamai, Kecamatan Labangka Kabupaten Sumbawa. Dia menjadi anak pelopor Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) di tengah gempuran berita bohong yang beredar luas awal tahun 2022 di media sosial. Egi anak pertama menerima imunisasi campak rubella di sekolahnya MI Darul Amanin Juli 2022.

 

…………………………………………………………….

 

SAFIA usia 30 tahun merupakan ibu dari Egi Melgiansyah. Safia tahun 2005 silam meninggal dunia dalam peristiwa kebakaran sebuah kios di dekat rumahnya di Dusun Kembang Kuning, Desa Sukadamai, Kecamatan Labangka. Waktu itu almarhum berencana menolong anaknya Egi yang terjebak api dalam kios. Namun naas, Safia justru jadi korban dan meninggal dunia. Sementara Egi berhasil menyelamatkan diri dari kobaran api.

Pasca kejadian tidak lama, Ari bapak dari Egi memutuskan untuk mencari pekerjaan di Afrika. Kabarnya sekarang sudah bekerja di sebuah kapal. Bahkan Ari mengaku sudah menikah dengan orang perantau di sana.

Sementara Egi tidak tahu harus tinggal dimana, kedua orangtua tidak bisa membangunkannya rumah. Dia akhirnya tinggal bersama neneknya di rumah setengah permanen ukuran 4 x 4 meter. Rumah milik sang nenek diapit rumah warga lainnya.

Tapi miris, di rumah itu tidak ada kamar mandi. Selama ini, Egi dan neneknya harus numpang mandi di rumah bibinya yang lokasi dari rumah nenek sekitar 25 meter. Kenyataan ini dirasakan Egi sejak ditinggal kedua orangtuanya.

Bukan hanya tempat tinggal, Egi juga sering tidak diberikan uang saku saat ke sekolah. Pasalnya, sang nenek tidak ada mata pencaharian. Untuk makan saja terkadang diberikan tetangga. Bahkan beberapa kali dia makan tanpa lauk, cukup dengan garam saja.

Sementara untuk seragam sekolah awal sang nenek tidak akan menyekolahkan Egi, beruntung MI Darul Amanin memberikan secara gratis seragam sekolah. Ini yang membuat anak yang bercita-cita ingin jadi polisi ini lantas bisa sekolah.

 

Tanggal 29 Oktober 2022 wartawan media ini berkunjung ke rumah neneknya Egi di Dusun Kembang Kuning, Desa Sukadamai. Egi saat itu tengah duduk merenung depan pintu rumah sembari menatap bukit di depan pintu rumah. Dia, Hari Sabtu tidak masuk sekolah karena kurang sehat.

 

“Saya sakit gigi dari tadi malam tidak bisa tidur, makanya tidak masuk sekolah,” katanya kepada wartawan media ini.

Egi dengan malu-malu menjawab setiap pertanyaan. Dia mengaku tinggal di rumah itu berdua bersama neneknya. Kebetulan neneknya pagi itu sedang ke rumah tetangga mencari daun kelor untuk dimasak.

“Tunggu sebentar lagi pasti pulang,” katanya.

Tidak lama, akhirnya nenek Egi tiba di rumah. Sang nenek sempat kaget saat melihat ada tamu menggunakan sepatu. Meski kaget ia menyapa tamunya dengan ramah.

“Begini kondisi tempat tinggal kami kotor nak, sini duduk agak tengah biar tidak kotor,” kata nenek Raitah yang sudah berusia 70 tahun itu.

Selanjutnya ia mulai menceritakan awal dirinya ikut menjadi warga transmigrasi. Termasuk orangtua Egi.

Raitah dulunya warga Desa Pelambik, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah yang transmigrasi ke Kecamatan Labangka tahun 1995.

Raitah datang ke Sumbawa dengan membawa anak-anaknya. Bahkan banyak anaknya menikah di Sumbawa dan menetap hingga sekarang. Egi juga lahir di Labangka yang merupakan desa transmigrasi.

“Pernah saya tanyakan Egi, pernah disuntik di sekolah dia jawab pernah. Tidak sakit, dijawab tidak sama Egi,” tuturnya.

Egi mengungkapkan, awal banyak teman-teman di sekolah tidak mau diberikan imunisasi campak rubella. Banyak orangtua yang tidak memberikan izin.

Akhirnya dirinya dengan berani maju. “Kalau dengan vaksin Covid-19 sudah tiga kali saya disuntik. Rasanya seperti digigit semut,” katanya sambil tersenyum.

Dia sempat mendengar ada cerita teman-teman di sekolah imunisasi campak rubella ada kandungan minyak babi.

Bahkan  lanjutnya ketika disuntik akan demam langsung. Namun dirinya tidak merasakan dampak apapun setelah campak rubella.

Kurang lebih seminggu setelah menerima imunisasi campak rubella, diapun  menceritakan apa yang dirasakannya. Dari ceritanya,  ada sekitar tiga orang temannya sekelas langsung diberikan izin orangtua untuk imunisasi campak rubella.

“Teman saya juga merasakan sama, seperti digigit semut. Tidak pernah sakit juga,” bebernya.

Sampai dengan saat ini menurut Egi, masih ada beberapa temannya tidak mau imunisasi campak rubella karena orangtua tidak memberikan izin.

 

Di tempat yang sama, Helmiatul Janah, siswa dari sekolah yang sama mengaku belum menerima imunisasi campak rubella. Sebab, saat dilakukan imunisasi di sekolah kebetulan Janah tidak masuk karena kurang enak badan.

“Sampai sekarang belum dikasi sama amaq (bapak, red),” ungkapnya.

Kalaupun diberikan izin oleh amaq, Janah siswa kelas II ini mengaku siap imunisasi campak rubella. “Mau kalau tidak sakit,” jawabnya sambil ngangguk.

Ayah dari Helmiatul Janah, Sapar baru sadar jika imunisasi campak rubella itu sangat penting untuk kesehatan si anak.

Awalnya dia khawatir ada isu kandungan minyak babi dan akan membuat anak sakit 100 hari.

“Masyarakat di sini tahu cerita itu juga. Mereka banyak tidak memberikan anaknya,” katanya.

Sapar berjanji jika dilakukan suntik atau imunisasi kembali maka dia akan memberikan izin untuk diimunisasi.

 

Sementara itu, Koordinator Program RCCE PKBI-Unicef Area NTB, Ardani Hatta menjelaskan, peran PKBI dalam sosialisasi BIAN memberikan informasi melalui kegiatan sosialisasi kepada masyarakat luas berkaitan dengan imunisasi (pengertian, manfaat, jenis dan efek samping).

Selain itu, sosialisasi dilakukan secara mandiri juga  dengan memanfaatkan momen Posyandu keluarga di desa.

“Kami juga sebar informasi melalui buku saku dan juga poster di sekolah-sekolah. Buku saku diberikan untuk kader posyandu dan tokoh agama,”  tutur Dani via wa.

Dia menjelaskan, sosialisasi yang sudah dilakukan di Kecamatan Utan, Kecamatan Sumbawa, Kecamatan Unter Iwes, Kecamatan Batu Lanteh dan juga dilaksanakan di sekolah.

Diakuinya, isu negatif tidak ditutupinya. Sebelumnya ada informasi yang beredar bahwa imunisasi haram.

Bukan hanya itu katanya, imunisasi disebut dapat menyebabkan batuk 100 hari dan imunisasi bisa menyebabkan anak jadi sakit.

“Kalau sosialisasi BIAN mulai dilakukan kami minggu IV Juni sampai dengan Minggu I September,” ungkapnya.

 

Ditambahkan Koordinator Program Komunikasi Risiko dan Pelibatan Masyarakat dan Anak (RCCE) wilayah NTB-NTT, Nurul Azizah mengatakan tidak ada penolakan secara keras dari masyarakat terhadap kegiatan tersebut.

Menurut Nurul, metode yang digunakan ini metode interpersonal communication (IPC) dan itu butuh waktu lama serta komitmen berbagi pihak untuk dapat membuat perubahan.

 

“Yang kami lakukan saat ini adalah mencoba menjadikan kegiatan kami sebagai suatu kebiasaan di masyarakat. Makanya kampanye atau sosialisasi yang dilakukan tidak eksklusif, justru lebih banyak memanfaatkan moment keseharian mereka. Misalnya di sekolah pada saat upacara, imtaq atau sebelum mereka masuk kelas,” katanya.

Nurul menyampaikan, semua orang melihat suatu isu secara berbeda. Tetapi dengan IPC ini pihaknya ingin mengetahui sudut pandang mereka, masalah yang mereka alami kemudian baru bisa melakukan intervensi.

“Sejauh ini penerimaan masyarakat cukup bagus karena pendekatan IPC ini. Cuman ya itu butuh waktu lama untuk menyadarkan masyarakat akan isu-isu penting,” tambahnya.

 

Kemudian di satu sekolah pernah ada seorang nenek yang menolak cucunya di imunisasi karena khawatir cucunya jadi sakit demam. “Oleh komunikator kami di sekolah didatangilah si nenek ke rumahnya mereka menjelaskan dengan metode IPC ini. Setelah itu Alhamdulillah nenek mau cucunya di imunisasi,” pungkasnya.(red)

 

 

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 417

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *