Dipicu Dendam, Reme Habisi Nyawa Tetangganya

Pembunuhan

HUMAS/RADAR MANDALIKA DIGELANDANG: Aparat Kepolisian berhasil meringkus pelaku pembunuhan di wilayah hukum Polresta Mataram. Pelaku inisial RM alias Reme, 50 tahun digelandang ke Mapolresta Mataram.

MATARAM – Tim Opsnal Satreskrim Polresta Mataram bergerak cepat menangani kasus pembunuhan terhadap korban Adi, 40 tahun, warga Dusun Aik Nyet, Desa Buwun Sejati, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat (Lobar). Mayat korban ditemukan di tepi jurang wilayah setempat. Pelakunya inisial RM alias Reme, 50 tahun berhasil ditangkap petugas hanya lima jam setelah mayat Adi ditemukan. Pelaku tak lain adalah tetangga korban.

“Setelah mayat korban ditemukan, pelaku berhasil kita tangkap. Saat sedang makan dengan keluarganya di Karang Tumbuk Cakra,” ungkap Wakapolresta Mataram, AKBP Erwin Suwondo saat konferensi pers di Mataram, kemarin (24/2).

Sebelumnya, penemuan mayat Adi membuat geger masyarakat pada 18 Februari sekitar pukul 06.00 Wita. Karena kesulitan mengevakuasi mayat korban, warga langsung menghubungi Bhabinkamtibmas setempat yang diteruskan ke Polsek Narmada dan Polresta Mataram. Petugas pun melakukan identifikasi. Hasilnya, mayat yang ditemukan itu adalah warga setempat bernama Adi. Penyelidikan lapangan cukup singkat dilaksanakan. “Dari keterangan saksi mengarah ke pelaku. Langsung kita amankan ke Mapolresta Mataram,” kata Erwin.

Dia membeberkan kronologis peristiwa pembunuhan. Awalnya pelaku mengaku berpapasan dengan korban. Pelaku lantas memukul korban dengan parang miliknya. Korban langsung terjatuh ke jurang. Karena RM ketakutan, korban dipukul lagi tiga kali hingga meninggal dunia. “Itu dari pengakuan awal pelaku,” sebut Erwin.

Namun berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), pembunuhan itu berawal dari dendam pelaku terhadap korban. Korban kata Erwin, marah dan dendam mengetahui istrinya sering diganggu pelaku. “Katanya istrinya itu pernah dicoba diperkosa juga. Makanya dia sangat marah. Itu atas pengakuan dan cerita istrinya,” ungkap dia.

Terungkap juga bahwa, setelah memukul korban menggunakan parang, pelaku khawatir dengan korban yang saat itu membawa senapan angin. Merasa takut ditembak, pelaku kembali mengayunkan parang miliknya menjurus ke kepala korban. Setelah itu, korban langsung terdiam. “Pelaku malah sempat membantu warga mencari bambu untuk membuat keranda jenazah. Setelah itu dia pergi ke rumah keluarganya,” kata Erwin.

Dari hasil interogasi petugas kepolisian, pelaku telah mengakui perbuatannya yang membunuh korban. Tapi, dia beralasan tersinggung dengan perkataan korban. Apalagi tiap hari keduanya bertemu karena bertetangga. “Suara motornya itu mengganggu sekali di pagi hari saat saya akan petik durian. Kami sama-sama sering petik durian. Kalau parang itu sering kami bawa sebagai pemetik durian. Tidak ada sebab lain,” ujar Erwin menuturkan keterangan RM alias Reme.

Pelaku dan barang bukti (BB) telah diamankan petugas. Barang bukti yang diamankan diantaranya, satu bilah parang, satu lembar kaos warna hitam, dan satu lembar jaket warna krem. Pelaku kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. RM disangkakan melanggar pasal 338 Kitab Undang-Undamg Hukum Pidana (KUHP) tentang pembunuhan. Dan, pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman 15 tahun penjara. (zak)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Spesial, Bupati Izinkan Dua ASN Ngades

Read Next

Warga Tolak Hadirnya Kereta Gantung Rinjani

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *