TERSANGKA: Oknum guru terduga pelaku pencabulan sejumlah murid diperiksa penyidik, belum lama ini. (WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA)

LOBAR – Oknum guru olahraga salah satu Sekolah Dasar (SD) negeri di Gelogor Kecamatan Kediri Lombok Barat inisial S, resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus pencabulan, Jumat (3/3/2023). Status tersangka ditetapkan setelah polisi melakukan pemeriksaan terhadap korban, dan pelaku.

Sebelumnya oknum guru itu dilaporkan oleh orang tua murid di salah satu SD di Gelogor, Rabu (2/3/2023). Karena diduga telah mencabuli lima muridnya disaat jam olahraga Jumat pekan kemarin.

“Ini sedang diperiksa didampingi pengacaranya. Hari ini mau ditahan,” ujar Kanit PPA Satreskrim Polres Lobar, Ipda Wikanto yang dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Menurutnya, para korban yang masih anak-anak juga sudah selesai diperiksa setelah mendapat pendampingan dari Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos). Bahkan dari Hasil visum sudah diperoleh. Namun diungkapkan Wikanto, tidak nampak adanya tanda kekerasan pada organ intim, sebab pada kasus ini perkara pencabulan bukan persetubuhan.

“Hanya dipegang-pengan daerah sensitif kewanitaan,” jelasnya.

Meski demikian, tersangka sudah mengakui melakukan tindakan pencabulan itu dengan beralasan khilaf. Sesuai dengan yang dilaporkan oleh para korbannya. “Dia minta maaf selaku manusia khilaf,” pungkasnya.

Sementara itu, ancaman sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Guru sudah menanti oknum berinisial S. Terlebih Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lobar, H Nasrun mengaku sudah menerima laporan tindakan guru berusia 57 tahun itu, Senin lalu.

“Bahkan tiga hari lalu kami sudah mencoba melakukan pendekatan Kekeluargaan agar yang bersangkutan menyerahkan diri ke kepolisian, tetapi tidak mempan. Karena saat itu masyarakat sudah ramai dan mau main hakim sendiri,” bebernya.

Pihaknya pun masih menunggu kabar status hukum kasus bersangkutan dari kepolisian. Sebab sejauh ini yang bersangkutan ditahan kepolisian. Namun besar kemungkinan kata Nasrun oknum guru itu akan diberhentikan mengajar.

“Karena prinsipnya orang begini sudah kelainan, kalau dipindah pun dia akan tetap seperti itu,” ujarnya.

Menurutnya, setelah urusannya dengan kepolisian selesai, langkah pensiunan lebih awal menjadi pilihan pihaknya. Karena sudah jelas yang bersangkutan memiliki penyimpangan seksual. Terlebih korban, pelaku maupun pihak sekolah seluruhnya warga Gelogor Kediri. Sehingga wajar jika warga setempat geram dengan perilaku pelaku. Padahal yang bersangkutan dikenal orang yang cukup taat beribadah.

“Tapi namanya penyimpangan,” ucapnya.

Saat disinggung langkah Dikbud agar kejadian serupa tak terulang, Nasrun mengatakan seluruh guru sudah memahami etika menjadi seorang pengajar atau guru. Terlebih pelatihan maupun pembinaan sudah sering dilakukan Dikbud. Mengingatkan untuk mengedepankan etika guru sebagai pendidik yang baik dan tidak mengunakan kekerasan.

“Kalau dia dengar yang ini tidak mungkin dia menyimpang. Tetapi tetap diingatkan untuk hati-tati dalam bertindak dan mengajar, karena zaman sekarang bentuk pukulan atau sebagainya itu merupakan kekerasan yang cepat dilaporkan,” pungkasnya. (win)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 522

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *