PRAYA – Belum beroperasinya pasar seni atau sentra kerajinan di Desa Sengkerang, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah (Loteng) mendapat perhatian kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Loteng.

Dewan berharap sekaligus meminta Pemkab Loteng melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) segera mengambil langkah untuk menghidupkan gedung sentra kerajinan tersebut. Sebab, pasar sentra yang dibangun dengan anggaran miliaran dari pemerintah pusat itu selalu disorot dan dipertanyakan masyarakat.

“Terbengkalainya pasar seni Sengkerang mengingatkan kita pada pasar buah Pancordao (di Desa Aik Darek, Kecamatan Batukliang) dan beberapa pasar buah pendukung lainnya di wilayah utara Loteng yang sampai saat ini juga ditelantarkan,” kata anggota DPRD Loteng, HM Sidik Maulana, Selasa (17/1/2023).

Wakil rakyat yang duduk di Komisi II ini mengakui, Pemda lihai sekali membuat rencana-rencana manis dalam rangka mendongkrak bangkitnya ekonomi masyarakat. Seperti pasar sentra kerajinan di Sengkerang ini misalkan, yang rencananya dibuat atau dibangun untuk sentra kerajinan yang ada di wilayah setempat. Sehingga baik produksi maupun pemasarannya terpusat di pasar sentra kerajinan tersebut. Yang mana, itu bisa dikemas dan dikolaborasikan untuk menunjang sektor pariwisata di Loteng.

Lalu, kata Sidik, pasar buah Pancordao  di Desa Aik Darek, Kecamatan Batukliang yang selalu digaungkan semasa pemerintahan Maik Meres satu maupun Maik Meres jilid dua yang selalu dijual dan dikampanyekan sebagai mimpi manis bagi petani buah dan hortikultura yang ada di utara Loteng.

“Namun apa yang terjadi justru setelah pasar-pasar itu jadi malah ditelantarkan bahkan sampai rusak lagi karena tidak difungsikan. Ini menandakan bahwa pemerintah daerah kita pinter berwacana dan bernarasi tapi justru banyak yang nihil implementasi,” kritik anggota DPRD Loteng Dapil Batukliang-Batukliang Utara itu.

Sementara, Kepala Bidang (Kabid) Perindustrian Disperindag Loteng, Baiq Yuliana saat dimintai keterangan belum bersedia memberi penjelasan terkait soal pasar sentra kerajinan Sengkerang tersebut.

Sebelumnya diberitakan Radar Mandalika, para pengendara yang melintas di jalan Sengekerang- Mujur mempertanyakan bangunan tersebut. Pasalnya, bangunan yang megah tersebut tidak kunjung ada kegiatan, padahal pengerjaannya sudah selesai.

Kepala Desa Sengkerang, Lalu Awaludin menjelaskan jika pembangunan pasar sentra kerajinan Sengkerang sudah selesai. Dimana, pengerjaan mega proyek tersebut mengabiskan anggaran sebesar Rp 20 miliar yang digelontorkan dalam dua tahap. “Pembangunannya sudah selesai, kita berharap agar pasar seni ini bisa segera beroperasi,” katanya.

Menyinggung hajatan awal pembangunan pasar seni tersebut, pihaknya menjelaskan jika pasar sentra tersebut dibangun sebagai pusat wisata dan produksi kerajinan yang ada di wilayah Praya Timur. Dimana, gedung dilengkapi dengan area pasar dan lokasi produksi, sehingga para pengunjung dan wisatawan bisa melihat secara langsung proses pembuatan kerajinan yang dipamerkan di lokasi tersebut.

Keberadaan pasar ini juga dijelaskan akan menyerap berbagai produk home industry yang ada di Kecamatan Praya Timur. Mulai dari kerajinan ketak, tenun, dan produk lainnya. Namun demikian, tidak semua warga Praya Timur mengetahui tujuan pembangunan pasar sentra tersebut. Warga hanya mengetahui jika bangunan tersebut dibangun pemerintah tanpa ada kejelasan manfaatnya bagi masyarakat.

“Saya tidak tahu, karena ini dibangun sudah lama juga,” jelas Zainul saat ditanya soal gedung tersebut.

Dia hanya menduga jika melihat dari plang yang ada, bangunan tersebut akan dimanfaatkan sebagai gudang hasil kerajinan masyarakat. Namun kapan akan mulai dimanfaatkan, ia sama sekali tidak tahu.

“Mungkin akan menampung kerajinan, tapi tidak tahu kapan beroperasi, jangan sampai nanti gedungnya rusak karena tidak kunjung di tempati,” katanya. (RM)

 

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 523

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *