Deadline Seminggu, LIDIK Ancam Segel Kantor PMI NTB

F Lidik NTB

IST/RADAR MANDALIKA HEARING: Massa dari LSM LIDIK NTB saat hearing dengan anggota Komisi IV DPRD NTB, Senin kemarin.

MATARAM – Puluhan massa dari LSM LIDIK NTB melakukan aksi protes ke kantor DPRD NTB, Senin kemarin. Mereka datang mempertanyakan belum dibayarnya pekerjaan pembangunan sumur bor yang bersumber dari program Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi NTB di sepuluh titik dari dua kabupaten, Lombok Tengah dan Lombok Barat.
“Sudah dua tahun pekerjaan sumur bor belum dibayar. Jumlah keseluruhan pekerjaan sumur bor sekitar Rp 1,7 miliar,” tegas Ketua Umum LIDIK NTB, Sahabudin kepada wartawan di lokasi.
Budin mengaku heran dengan sikap PMI NTB yang belum juga melakukan pembayaran terhadap pekerjaan sumur bor tersebut, sementara Surat Perintah Kerja (SPK) juga dikeluarkan oleh pihak PMI NTB yang langsung ditandatangani oleh Ketua Ridwan Hidayat.

“Malahan kami dibertahukan oleh mereka bahwa PMI Pusat tidak mengakui kalau program sumur bor itu adalah program yang diberikan oleh PMI Pusat. Akan tetapi disisi yang lain juga PMI Pusat memerintahkan PMI NTB agar segera menyelesaikan persoalan pekerjaan sumur bor ini. Anehnya lagi Ketua PMI NTB, H Ridwan Hidayat justru mau membayar pekerjaan itu kepada masyarakat, padahal mereka berkontrak dengan rekanan,” katanya tegas.

Dimana, sepuluh titik pekerjaan sumur bor itu menurutnya tersebar di Kabupaten Lombok Tengah seperti di Janapria, Batujai sementara di Lobar ada di wilayah Lembar dan Narmada.
“Semuanya sudah terpasang dan sudah dimanfaatkan oleh masyarakat,” bebernya.
Budin meminta Ketua PMI NTB, Ridwan Hidayat agar segera membuat surat pernyataan kesiapan pembayaran. Kemudian, LIDIK akan mendatangkan masyarakat dari sepuluh titik itu ke kantor DPRD NTB. “Kami akan menyegel kantor PMI NTB jika permintaan kami ini tidak diindahkan. Kami beri deadline seminggu dari sekarang,” ancamnya.

Anggota Komisi IV DPRD NTB, Sudirsah Sujanto mengaku sangat berterimakasih kepada masyarakat, khususnya LIDIK NTB yang telah menyampaikan informasi soal itu kepada lembaga dewan. “Kami sebenarnya tidak tahu sama sekali soal itu. Baru hari ini kami tahu bahwa ada program bantuan sumur bor paskagempa 2018 lalu yang menjadi programnya PMI,” kata Sudirsah.

“Program yang dikerjakan oleh CV Jaya Steel dengan Nomor Kontrak tertanggal 17 September 2019 langsung ditandatangani oleh Ketua PMI NTB dengan diberikan RAB pekerjaannya dengan anggaran sebesar Rp175 juta per titik atau totalnya Rp1,7 M. Hanya saja problemnya sampai saat sekarang ini belum terbayarkan,” tambahnya.

Wakil rakyat satu ini mengatakan berdasarkan informasi yang didapatnya, Ketua PMI NTB sempat melakukan upaya untuk mempertanyakan program tersebut ke PMI Pusat. “Langsung diterima oleh Sekjen PMI Pusat, Sudirman Said. Hanya saja, PMI Pusat mengakui bahwa pekerjaan sumur bor itu bukanlah program PMI Pusat,” katanya.

Menyikapi aspirasi masyarakat ini, Sudirsah bersama H Saad Abdullah meminta kepada Sekretaris DPRD NTB untuk segera berkoordinasi dengan pimpinan DPRD NTB untuk mengagendakan pertemuan dengan Ketua PMI NTB menyangkut persoalan ini.
“Tadi kami minta agar pak Sekwan dapat segera berkomunikasi dengan pimpinan dewan,”katanya tegas.(jho/rls)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Kecamatan Jonggat, 31 Anak Berpotensi Gizi Buruk

Read Next

Proyek Irigasi Tetes Dinilai Gagal

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *