PRAYA – Kasus pernikahan sesama jenis hampir terjadi di Kabupaten Lombok Tengah. Rencana pernikahan  itu akhirnya batal lantaran calon pengantin wanita ternyata diketahui adalah seorang pria.

Seorang warga di Dusun Bun Salak II, Desa Jago, Kecamatan Praya berinisial NS (30) nyaris menikahi seseorang yang dikira adalah wanita berinisial NE (18). NE merupakan warga dari Dusun Pengalang, Desa Persiapan Keramejati, Kecamatan Pujut, yang belakangan ternyata seorang pria dengan identitas asli ZK.

Kepala Dusun Bun Salak II, M Toha menceritakan kronologi kejadiannya. Dimana pada Kamis (7/9) malam, NS membawa NE (alias ZK) ke rumahnya (proses merarik). Informasi itu diketahui dari warganya, dan akan mengadakan acara merangkat (tradisi menyambut kedua calon pengantin baru).

Setelah tiga hari, pada Minggu (10/9), ia bersama tokoh adat setempat berangkat untuk nyelabar ke Desa Persiapan Keramejati. Sebelum berangkat, pihaknya menanyakan kepada NE identitas kedua orang tuanya, di mana rumahnya, hingga berapa maskawin yang NE minta kepada NS. Waktu itu, sempat ia diberitahu bahwa permintaan NE sekitar 2 gram emas.

 

“Saya bersama lembaga adat Desa Jago berangkat menuju Desa Keramajati, kemudian bertemu dengan kepala dusun pengantin ini. Kemudian saat kami mengutarakan tujuan kami soal mempelai ini, menyatakan tidak ada nama Nisa Erlina (NE), kalau nama orang tuanya sudah pas. Dan, kadus setempat menanyakan ke warga dan kadus yang lain tetangga juga tidak ada. Kami meminta kontak wali pun tidak tersambung, koordinasi dengan Kadus setempat makanya nyambung, dan menayakan siapa anaknya yang menikah, dan orang tuanya menyatakan tidak memiliki anak perempuan. Dasarnya nomor kontak dan nama orang tua tidak mungkin beda. Kita juga sempat video call (VC) dengan kadus dengan pengantin, dia (NE alias ZK) menutup mukanya hingga pengantin laki pun dihalau tangannya saat akan membuka penutup mukanya,” ceritanya.

“Kita kuatkan dengan nomor HP, nama ortu, dan neneknya sama. Dan Ortunya menyatakan anak saya laki, ” tambahnya.

Mendengar itu, ia bersama rombongan nyelabar langsung kaget hingga tidak bisa berbicara. Saat di-VC orang tuanya, NE alias ZK ini tidak mau membuka penutup mukanya, sampe naik ke masjid untuk salat berjamaah memakai mukenah.

Saat informasinya valid, ia bersama orang tua dan kadus setempat datang menjemput anaknya di Desa Jago. Sampai di perjalanan, ia belum mengabarkan masyarakat Desa Jago, kalau calon pengantin wanita adalah seorang pria. Hal ini dilakukan dengan alasan tertentu.

Hingga ia meyakinkan masyarakat, tokoh Desa Jago. Akhirnya kedua calon pengantin ini dipisahkan dan pernikahan dibatalkan. Bahwa alasannya, karena calon pengantin wanita adalah seorang pria, dengan identitas asli ZK.

Karena keluarga mempelai pria sudah menyebarkan berita pernikahan anaknya, kemudian sudah banyak warga yang berdatangan saat tersebarnya pernikahan itu. Ada yang membawakan beras, kelapa dan lainnya untuk persiapan acara tasyakuran pernikahan. Maka ia menginisiasi pengantin NS supaya segera mencari calon pengantin baru.

Dan akhirnya NS mendapatkan pengantin wanita tulen, sehingga prosesi persiapan pernikahan dilanjutkan.

“Pengantin (NS) ini kan menikah supaya ada yang merawat orang tuanya yang sakit-sakitan, sehingga niat mulianya ini semua terharu dan simpati,” ucapnya.

Terpisah Kedes Desa Persiapan Keramejati, Lalu Suharto membenarkan jika calon mempelai perempuan yang berjenis kelamin laki-laki tersebut merupakan warganya. Dimana diterangkan jika yang bersangkutan memiliki kelainan dan cenderung bergaul dengan perempuan.

“Memang benar demikian adanya,” jelasnya saat dikonfirmasi Radar Mandalika, Selasa (12/9).

Dikatakan, pihaknya sempat mendatangi rumahnya namun yang bersangkutan saat ini dalam keadaan sakit. Dijelaskan, jika anak itu saat ini masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SLTP).

Berdasarkan pengakuan pihak keluarga yang diterimanya, kelainan yang terjadi pada anak itu tidak nampak. Dimana yang bersangkutan dalam bersikap tetap sama seperti laki- laki yakni mengaji menggunakan kopiah, bersekolah menggunakan celana. Bahkan anak tersebut dikenal baik dan sopan.

Namun pihak keluarga menduga jika  kejadian tersebut terjadi lantaran adanya gangguan makhluk halus, sehingga pihak keluarga saat ini terus berupaya untuk melakukan pengobatan terhadap yang bersangkutan.

“Tetapi menurut pengakuan orang tua dan neneknya, anak itu diganggu makhluk halus/kesurupan, sehingga mencoba mengobati dengan cara non medis,” ujarnya.(tim/ndi)

100% LikesVS
0% Dislikes
Post Views : 858

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *