Bebas dari Penjara, Mantan Bupati Zaini Arony Minta Maaf ke Masyarakat

  • Bagikan
F bok 2 scaled
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA BEBAS: Mantan Bupati Lobar H Zaini Arony bersama sang istri Hj Nanik Zaini Arony saat ditemui di kediamannya di Desa Dasan Tapen Kecamatan Gerung, Rabu (16/3).

 

Mantan Bupati Lombok Barat H Zaini Arony bisa kembali berkumpul dengan keluarga tercinta, usai menjalani hukuman 7 tahun penjara. Bagaimana keseharian bapak pembangunan Lobar ini setelah bebas? Berikut liputannya.

 

WINDY DHARMA-LOMBOK BARAT

 

SEJAK Rabu (16/3) pagi, “Bale Beleq” yang menjadi kediaman mantan Bupati Lombok Barat (Lobar) H Zaini Arony sudah ramai didatangi tamu. Silih berganti sanak keluarga, kerabat, hingga warga Lobar berdatangan ke rumah yang berada di Desa Dasan Tapen Kecamatan Gerung.

Para tamu datang karena ingin bertemu dan bersilaturahmi lagi dengan mantan Bupati Lobar H. Zaini Arony setelah bebas dari penjara, Senin (15/3) lalu. Sejak tahun 2015 silam, tepat tujuh tahun lamanya Zaini mendekam di balik jeruji besi atas kasus pemerasan terhadap investor yang akan mengembangkan The Meang Peninsula di Desa Buwun Mas Sekotong.

Pria yang dijuluki Bapak Pembangunan di Kabupaten Lobar itu nampak tegar dengan senyum yang khas. Didampingi sang istri tercinta, Hj. Nanik Zaini Arony yang selalu setia mendampinginya. Sesekali, Zaini Arony menerima uluran tangan tamu yang mengucapkan selamat telah menghirup udara bebas. Zaini pun menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat Kabupaten Lobar atas kesalahannya sehingga membuat hutang dan janjinya selama memimpin Kabupaten Lobar tak terpenuhi.

“Saya minta maaf apabila banyak hutang janji saya selaku pimpinan belum terpenuhi karena kejadian itu,” ujarnya lirih namun tetap tegar.

Zaini Arony berharap kepada siapapun pemimpin yang bisa melanjutkan pembangunan di Kabupaten Lobar. Sebab ia menilai tantangan yang dihadapi tidak menjadi lebih ringan, dan justru lebih berat. Namun ia menyarankan agar tetap bersama masyarakat.

“Kuncinya, selama kita bersama masyarakat, betapa pun beratnya, kalau dukungan masyarakat, maka kita akan menjadi baik. Itu harapan dan pengalaman saya,” sambungnya.

Ia pun meminta agar masyarakat Lobar tidak menjadi pesimis melihat kenyataan ke depan. Meski kini pengabdiannya selesai di masyarakat, namun ia berharap kedepan harus lebih baik. “Kita harus kompetitif, dan satu kuncinya adalah kualitas berpikir dan bertindak. Tentu semua itu atas dasar aturan-aturan dan jangan melanggar aturan,” imbuhnya lagi.

Dia pun meminta kepada masyarakat hendaknya menjadikannya sebagai contoh. Tapi bukan untuk dicontoh atas apa yang pernah dilakukannya. “Biar saya sebagai contoh, bukan untuk dicontoh agar tidak melakukan, khususnya untuk ASN dan pejabat, karena komunikasi ke depan pasti semakin canggih. Jadi kita tidak lagi bisa berpura-pura, namun saya yakin akan lebih bagus,” katanya.

Mengenai kemungkinan kembali ke dunia politik pasca bebas, Zaini mengaku belum berpikir ke arah situ. Karena menurutnya, perjuangan untuk masyarakat tak meski melalui jalur politik. Ia bahkan mengungkapkan kemungkinan membuka lembaga pendidikan. “Kita berjuang meningkatkan kualitas masyarakat atau juga dari grup-grup diskusi yang lebih besar untuk menyumbang pemikiran. Dan pemerintahan dari jenjang manapun jangan menutup diri, karena kita tidak akan berhasil jika berjuang sendiri, jadi harus bersama-sama,” paparnya kemudian.

Zaini Arony lantas menceritakan pengalamannya selama melaksanakan hukumannya. Setelah inkrah hukuman yang dijatuhkan padanya 2015 lalu menjadi pelajaran berharga. Meski bukan suatu pengalaman pahit. Karena menurutnya sesungguhnya hidup ini adalah sebuah pembelajaran. Sebanyak 6 kali pindah tahanan meninggalkan banyak kisah dan cerita tersendiri. Diawali saat menjadi tahanan KPK Lapas Guntur. Setelah disidangkan di Denpasar Bali, lalu ditahan di Lapas Kerobokan. Huru-hara yang terjadi di Lapas Kerobokan, membuat petugas memindahkannya ke Lapas Klungkung demi keamanan. Dari Lapas Klungkung barulah dirinya dipindah ke Mataram yang merupakan daerah atau tanah kelahirannya sehingga dia merasa lebih dekat dengan keluarga.

“Kemudian kebetulan di Mataram waktu itu terjadi gempa bumi hebat yang tujuh koma itu kemudian kami ditawarkan oleh pimpinan Lapas karena kondisi Lapas mengkhawatirkan. Siapa yang mau pindah ke Bima, Dompu dan Loteng, dan saya memilih Lapas Loteng, tepatnya di Lapas anak Teojong-Ojong selama 7 bulan,” ceritanya.

Setelah bencana berlalu, Zaini Arony dipindahkan kembali ke Lapas Mataram dan terakhir di Lapas kelas II A Mataram di Kuripan. Enam tempat itu memberinya pembelajaran berharga. “Saya katakan syukur saya dibui, tidak, itu terlalu ekstrim. Tapi dengan penahanan itu, saya bisa tahu karakter masing-masing napi, baik itu kriminal umum, pembunuh, narkoba dan tipikor. Setidaknya ini hikmah yang saya alami,” sambungnya sedikit serius.

Kemudian dari sisi spiritual, lanjut pria yang sempat menduduki posisi Ketua DPD Golkar NTB itu, dirinya menjadi sosok yang lebih penyabar, ikhlas menerima kenyataan, dan selalu mencoba untuk tawakal. Bahkan ia bisa khatam Alquran sebanyak 8 kali. “Sebab kalau momentum itu tidak bisa melatih diri, menemukan jati diri untuk hidup lebih berarti, rugi kita. Sudah sakit, tidak lagi kita makan. Itu pengalaman, Alhamdulillah saya keluar dan akan memulai hidup yang baru,” pungkasnya mengakhiri cerita. (*)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *