BERI KETERANGAN: Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik NTB Najamuddin Amy (kiri), Plh Kepala BPS NTB, Mohammad Junaedi dan Statistisi Ahli Madya Arrief Chandra Setiawan saat menjelaskan data kemiskinan, Senin (16/1/2023). (IST/RADAR MANDALIKA)

MATARAM – Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, angka kemiskinan di NTB mengalami penurunan.

Pemprov NTB melalui Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik NTB, Najamuddin Amy mengaku sesuai paparan Plh Kepala BPS Provinsi NTB, Mohammad Junaedi menjelaskan tingkat kemiskinan di NTB menurun 0.01 persen.

Secara umum, pada periode September 2013 – September 2022, tingkat kemiskinan di Provinsi NTB mengalami penurunan, baik dari sisi jumlah maupun persentase.

Persentase penduduk miskin pada September 2022 sebesar 13,82 persen, turun sebesar 0,01 persen dibandingkan September 2021 yaitu sebesar 13,83 persen. Ia menjelaskan penurunan tingkat kemiskinan ini terjadi di wilayah perkotaan.

“Penurunan kemiskinan ini terjadi di wilayah perkotaan, jika kita lihat pada bulan September tahun 2021 ke bulan September tahun 2022 terlihat penurunan sebesar 14,54 menjadi 13,98,” bebernya, Senin (16/1/2023).

Selanjutnya, untuk informasi, Garis Kemiskinan pada September 2022 tercatat sebesar Rp489.954,-/kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp367.535,- (75,01 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp122.419,- (24,99 persen).

Pada September 2022, secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 3,86 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp1.891.222,-/rumah tangga miskin/bulan.

Lebih jauh Plh Kepala BPS NTB, Mohammad Junaedi menjabarkan, jumlah dan persentase penduduk miskin di NTB sejak 2019 penurunan terjadi sebelum pandemi yaitu dari 735,96 ribu (14,56%) menjadi 705,68 ribu (13,88 %) berdasarkan periode Maret-September 2019. Selanjutnya di masa pandemi terhitung Maret-September 2020 yaitu sebesar 13,97 persen menjadi 14,23 persen dengan hitungan penduduk 713.89 ribu menjadi 746,04 ribu.

Berikutnya di Maret 2020 ke September 2021 menjadi 14,14 persen. Lalu dari Maret – September 2021 ada penurunan sehingga menjadi 13,83 persen atau 735,3 ribu. Selanjutnya dari September 2021 ke Maret 2022 berkurang menjadi 13,68 persen atau penduduk miskin berjumlah 731.94 ribu.

Sementara itu berdasarkan indeks kedalam kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di perkotaan meningkat sedang di pedesaan menurun. Hal itu sesuai analisis BPS sejak Maret 2019.

Persentase penduduk miskin berdasarkan wilayah yaitu adanya angka penurunan di wilayah perkotaan.

BPS juga menjelaskan Garis Kemiskinan (GK) September 2022 sebesar Rp 489.954 perbulan atau naik 6,55 persen. Untuk distribusi penyumbang GK sendiri September 2022 bukan makanan sebesar 24,99 persen. Lalu peranan GK makanan sebesar 75,01 persen.

“Peranan komoditas makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan dengan peranan komoditas bukan makanan,” jelasnya. (jho)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 592

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *