KHOTIM/RADARMANDALIKA.ID BERTAHAN: Ini Amaq Bengkok yang tengah duduk santai di lahan miliknya, Minggu kemarin.

Siap Dibunuh dan Dikubur di Tanah Miliknya

 

 

 

Persoalan lahan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika belum tuntas sampai detik ini. Salah satu warga yang bertahan di sekitar Sirkuit Mandalika, Amaq Bengkok. Sudah dua kali sirkuit ini digunakan untuk event WSBK dan sekali event Motogp 2021. Dia masih tetap tinggal bertahan di sana.

 

 

KHOTIM-LOMBOK TENGAH

 

 

AMAQ Bengkok dari awal dibangun Sirkuit Mandalika selalu ramai diperbincangkan di media sosial. Bahkan sampai saat ini. Pada momen event WSBK kemarin, Amaq Bengkok kembali menjadi bidikan kamera sejumlah jurnalis dan warganet.

Dia menegaskan, selama ini dirinya tidak pernah menjual tanah lokasi dibangun sirkuit kebanggaan rakyat Indonesia ini.

“Silahkan cek, saya ini tidak pernah menerima pembayaran lahan atau menjual, makanya saya diam di sini,” ungkapnya, Minggu kemarin kepada Radar Mandalika.

 

Amaq Bengkok menceritakan, dia merupakan warga yang permukimanannya terisolir. Keluar masuk di lahan sendiri harus menggunakan ID yang telah diberikan pihak ITDC. Berbicara terganggu, dia sangat terganggu. Belum lagi bisingnya suara kenalpot motor pembalap.

 

Dibeberkannya, sampai dengan saat ini, lahan belum dibayar pihak ITDC di areal luar sirkuit di gerbang kuning sebelah selatan bukit 360  seluas 1,54 hektare. Termasuk tanah di dalam areal sirkuit seluas 97 are yang berada di dalam areal sirkuit persis sebelah Utara dan selatan bukit 360 di bawahnya persis di tikungan 7, 8 dan 11.

 

“Saya mau teriak ke pemerintah minta pembayaran, kalau tidak silahkan buatkan lubang mayat saya dan kuburkan saya di tanah saya ini,” katanya tegas.

 

“Orangtua saya wali soker. Kita belum ikhlas kalau belum dibayarkan,” sambungnya.

 

Amaq Bengkok menyampaikan, doa orang yang terzolimi dan teraniaya sering terijabah. Ia membuktikan dengan balapan setiap kali dilaksanakan event di lokasi ini selalu terjadi insiden kecelakaan.

 

“Saya siap dipenjarakan, saya siap dibunuh dan dikubur dalam mempertahankan harta saya ini. Saya punya surat kepemilikan yang sah dikeluarkan pemerintah. Saya berani mati. Lebih baik saya mati kalau hanya sekadar diambil tanpa dibayar,” ungkapnya.

Selama bertahan, Amaq Bengkok heran mengapa tidak diselesaikan. Termasuk berharap sekali presiden, menteri, ITDC, gubernur dan bupati menemuinya untuk dijelaskan.

“Kalau belum dibayarkan saya tidak akan meninggalkan tanah saya ini,” janjinya.(*)

 

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 373

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *