DIKES LOTENG DOR RADAR MANDALIKA TURUN: Dua petugas saat menaburkan bubuk Abate di penampungan air, belum lama ini.

PRAYA – Hingga bulan Oktober 2022, Pemkab Lombok Tengah mencatat sebanyak 42 kasus positif demam berdarah dengue (DBD). Anomali cuaca perlu diwaspadai masyarakat. Juga, masyarakat diingatkan tetap menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

 

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinas Kesehatan (Dikes) Loteng, Putrawangsa mengatakan, jumlah kasus DBD sementara ini lebih sedikit dibandingkan dua tahun sebelumnya. Yang dimana pada tahun 2020 tercatat sebanyak 92 kasus, dan ada 80 kasus di tahun 2021.

 

“Kalau kita melihat sampai dengan bulan Oktober ini, mudah-mudahan lah tidak lebih dari kasus yang tahun kemarin,” harapnya pada Radar Mandalika, Selasa (1/11) kemarin.

 

Putrawangsa menegaskan, secara akumulasi jumlah kasus positif DBD rentang waktu dari Januari sampai Oktober tahun ini tercatat 42 kasus. Dimana, kasus DBD tersebut rata-rata menjangkiti orang dewasa. Sementara, satu warga di Desa Batunyala Kecamatan Praya Tengah meninggal akibat positif DBD pada bulan Januari.

 

Dia mengungkapkan, puncak temuan kasus DBD biasanya terjadi mulai bulan November sampai Februari. Anomali cuaca perlu diwaspadai. Peralihan cuaca antara musim kemarau ke musim penghujan atau pancaroba menjadi faktor munculnya penyakit DBD.

 

“Kita antisipasi musim ekstrem ini. Faktor yang paling besar ini di musim seperti ini (sekarang ini). Karena kadang, kadang panas. Kalau dia panas lebih baik panas sekali. Atau hujan, hujan sekali,” katanya.

 

Diungkapkan, sebaran penyakit DBD yang diakibatkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti rawan terjadi di daerah perkotaan. Yaitu permukiman padat penduduk. Seperti di Praya. Sehingga masyarakat diingatkan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

 

Tapi langkah awal antisipasi pihaknya sudah bersurat ke semua puskemas untuk kewaspadaan munculnya penyakit kasus DBD. “Untuk antisipasi musim penghujan ini. Paling tidak teman-teman (puskemas) sudah melakukan pemeriksaan ABJ (Angka Bebas Jentik) sama penebaran Abate. Kuncinya di situ,” katanya.

 

Ketika puskemas melihat sebaran ABJ tinggi, kata dia, maka harus benar-benar diantisipasi. Penularannya harus dicegah. Kalau tidak akan berbahaya. “Begitu ABJ-nya tinggi maka dia sertakan dengan penebaran Abate dan PSN,” jelasnya.

 

Pencegahan kasus DBD dilakukan dengan cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Yaitu menerapkan 3M (menguras, menutup tempat penampungan air, memanfaatkan barang-barang bekas). Langkah ini lebih ampuh ketimbang fogging (pengasapan).

 

Karena, fogging dikatakan hanya membunuh nyamuk dewasa. Sementara, PSN memberantas jentik nyamuk. “Sebenarnya fogging itu langkah terakhir. Langkah pertama itu adalah PSN,” jelas Putrawangsa.

 

Langkah antisipasinya diminta masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, pola hidup bersih dan sehat, hindari genangan air, membersihkan selokan, dan menerapkan 3M.

 

“Walaupun pada prinsipnya nyamuk DBD itukan suka di tempat-tempat air bersih. Makanya bak mandinya tetap dikuras,” katanya mengingatkan.(zak)

 

 

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 196

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *